{"id":6895,"date":"2023-12-23T18:44:06","date_gmt":"2023-12-23T11:44:06","guid":{"rendered":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/?p=6895"},"modified":"2023-12-23T18:52:54","modified_gmt":"2023-12-23T11:52:54","slug":"cytw-untuk-siapa-sebuah-cerita-pendek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/berita\/cytw-untuk-siapa-sebuah-cerita-pendek\/","title":{"rendered":"CYTW Untuk Siapa? (Sebuah Cerita Pendek)"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"6895\" class=\"elementor elementor-6895\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e36b9a3 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"e36b9a3\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-48e562d elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"48e562d\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/6d539932-bf75-47b7-ae69-240249efcf3f.jpeg\" title=\"\" alt=\"\" loading=\"lazy\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b0192e1 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"b0192e1\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>\u201cSudah mas\u2026 saya nyerah!\u201d Pak RT mengangkat tangan. Apa boleh buat, kekalahan 4-0 itu sangat telak. Daripada semakin malu ya mungkin lebih baik menyerah. Tumben amat malam minggu ini aku menang catur lawan Pak RT. Tidak biasanya Pak RT kalah beruntun sampai empat kali. Sambil membantu Pak RT merapikan papan catur aku interogasi Pak RT.<\/p><p>\u201cTumben pak??&#8230;.\u201d<\/p><p>\u201cIya ini Mas, pusing saya dari kemarin.\u201d<\/p><p>\u201cPusing kenapa pak?\u201d tanyaku.<\/p><p>\u201cYaah\u2026 pokoknya kalau saya dapat 50 juta saja, langsung saya lepas ini RT!\u201d<\/p><p>\u201cLho&#8230; memang ada apa, Pak?\u201d<\/p><p>\u201cPusing banget, Mas&#8230;. Mas Tom kan tahu anaknya Pak Bali, magrib tadi meninggal?\u201d<\/p><p>\u201cLah, apa hubungannya dengan pusingnya Bapak?\u201d<\/p><p>\u201cPak Bali minta biaya pemakaman diurus RT. Ya saya nggak mau. Kas RT saja kosong. Tapi pak Bali ngotot karena sudah iuran setiap bulan. Akhirnya ya saya janjiin besok saya cariin kayu buat nisan.\u201d<\/p><p>\u201cWah jadi Pak RT yang kena bantalan.\u201d<\/p><p>\u201cItulah Mas\u2026. Makanya kalau saya dapat 50 juta saja, saya sudah nggak mau jadi Ketua RT lagi. Apalagi kondisi anak saya kan Mas Tom juga tahu,\u201d Pak RT melanjutkan keluh kesahnya. Ia ceritakan bagaimana ia yang sudah lansia menjelang tujuh puluh tahun terpaksa jadi Ketua RT karena ketua RT terpilih menjadi ketua RW. Warga tidak mau ada pemilihan RT baru, dan meminta wakil ketua yang menjadi Ketua RT. Ia keberatan karena sudah lansia, tidak punya penghasilan dan pekerjaan tetap, sementara anaknya mengalami keterbelakangan mental. Ia duda harus merawat sendiri anaknya. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Bebannya semakin bertambah karena ia sendiri masih mengontrak.<\/p><p>Aku diam mendengar keluhan Pak RT, membayangkan betapa sulitnya dalam posisi Pak RT sekarang. \u201cPengurus lain bagaimana pak?<\/p><p>\u201cAaah&#8230;. malas, Mas. Mereka juga nggak bisa diandalkan. Ada kematian warga di RT tetangga saja, musti saya yang keliling kasih kartu sumbangan. Pengurus lain ogah, banyak alasan nolak membagikan kartu sumbangan. Tapi begitu dapat honor dari pemerintah, nanyaiiin mulu. Kan kesel jadinya.\u201d<\/p><p>\u201cRapat terakhir bulan lalu diputuskan, kalau ada warga RT lain yang meninggal kita potong kas seratus lima puluh ribu tapi kartu kematian tidak diedarkan. Dari tiga bulan lalu sampai sekarang sudah ada delapan warga yang meninggal. Dari warga kita dua, sisanya dari RT lain. Kas habis terpotong terus. Iuran warga sepuluh ribu per bulan nggak nutup. Apalagi nggak semua warga mau iuran. Pusing kepala saya,\u201d katanya sambil menghirup dalam-dalam rokok di mulutnya.<\/p><p>\u201cBerarti harus rapat lagi, Pak. Bilang terus terang ke warga, kalau iuran tidak dinaikkan kas bakal kosong.\u201d<\/p><p>\u201cIya Mas, mau nggak mau, paling habis tahun baru. Cuma yang soal kematian ini, keluarga Pak Bali ngotot, minta pemakaman besok pagi di Karet Tengsin itu ditanggung RT.\u201d<\/p><p>\u201cYa mana bisa pak. Bapak bilang saja, iuran warga itu sebagai bentuk tanggung jawab warga ke wilayahnya sendiri. Lha kalo soal kematian ditanggung RT ya nggak bisa. Kan Pak RT bukan asuransi. Kalau mau ditanggung RT ya iurannya musti tambah, nggak cukuplah sepuluh ribu sebulan per KK dapat biaya pemakaman. \u201c<\/p><p>\u201cIya ya Mas.\u201d<\/p><p>\u201cIuran RT beda sama iuran kematian. Iuran RT itu kan fungsinya untuk merawat dan memelihara perlengkapan, peralatan, dan kegiatan RT. Contohnya iuran RT digunakan untuk beli lampu, terpal, kursi. Terus biaya beli lampu baru kalo lampunya mati, buat beli konsumsi kalau ada kunjungan dari kelurahan, atau kebersihan RW, keamanan dan sejenisnya. Begitu Pak.\u201d<\/p><p>Pak RT manggut-manggut.<\/p><p>\u201cMusti dirapatin lagi mas.\u201d<\/p><p>\u201cHarus, Pak, jangan ditanggung sendiri. Yang penting Pak RT ketemu keluarga Pak Bali dulu, jelaskan soal proses pemakaman besok, harus menggunakan dana dari keluarga Pak Bali sendiri.\u201d<\/p><p>\u201cYa sudah, Mas, ke sana dulu yuk.\u201d<\/p><p>\u201cNanti aja Pak, pas jenazahnya datang. Kan sekarang masih di rumah sakit.\u201d<\/p><p>\u201cYa sudah ntar malam saja. Tenda sama lampu kan sudah kepasang. Eh&#8230; terima kasih Mas Tom.\u201d<\/p><p>\u201cBuat apa Pak?\u201d<\/p><p>\u201cSudah jadi teman cerita!\u201d<\/p><p>\u201cOoh iya pak RT, sama -sama. Saya pamit ya Pak, nanti kita ketemu di rumah Pak Bali sekalian jaga.\u201d<\/p><p>Sampai di rumah, aku ceritakan semua kejadian tadi pada istri. \u201cKasihan juga Pak RT, ya pak?\u201d kata istriku. \u201cApa celengan CYTW itu kita kasih buat Pak RT saja?\u201d<\/p><p>\u201cYa boleh saja, Ma. Tapi bukannya Mama usul tahun ini CYTW mau dikasih ke tukang sol sepatu?\u201d<\/p><p>\u201cIya sih&#8230; si Bapak Tukang Sol itu juga kasihan sebenarnya. Sudah tua, rumahnya jauh&#8230; tiap hari jalan kaki, kiosnya yang sederhana beberapa kali kena gusur. Itu Bapak juga sering bantu ngesol sepatu kita beberapa kali. Ongkos ngesol sepatu, juga murah. Rencana natal kita tahun ini, CYTW mau kasih buat dia saja.\u201d<\/p><p>\u201cJadi bagaimana? CYTW mau mama kasih ke Bapak Tukang Sol atau Pak RT?\u201d<\/p><p>Kami terdiam. Masih bingung Celengan Yesus Tuna Wisma atau CYTW mau diberikan kepada siapa. Masing-masing memiliki alasan untuk diberi bantuan tetapi celengan CYTW hanya ada satu. Celengan CYTW itu hasil dari kami sekeluarga mengumpulkan uang receh setahun ini. Niatnya, Natal ini akan diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan di dekat kami atau yang kami kenal. Hasilnya mungkin tidak besar tetapi pasti sangat membantu bagi yang menerima.<\/p><p>\u201cJadi mau diberikan kepada siapa, Ma?\u201d<\/p><p>\u201cBingung aku, Pak. Kita pergi misa natal saja dulu, siapa tahu ada pencerahan.\u201d<\/p><p>\u201cHayuuk&#8230;..\u201d <em><strong>*** mastom<\/strong><\/em><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSudah mas\u2026 saya nyerah!\u201d Pak RT mengangkat tangan. Apa boleh buat, kekalahan 4-0 itu sangat telak. Daripada semakin malu ya mungkin lebih baik menyerah. Tumben amat malam minggu ini aku menang catur lawan Pak&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-6895","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6895","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6895"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6895\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6903,"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6895\/revisions\/6903"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gerejapaskalis.or.id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}