Cinta Kasih Kristus Menggerakkan Persaudaraan dalam Perayaan Natal

gerejapaskalis.or.id – Perayaan Natal di gereja paskalis tahun 2021 masih dibayangi pandemi Covid-19. Keterlibatan umat dalam persiapan maupun pelaksanaan perayaan Natal dibatasi. Selama pandemi, kegiatan umat di gereja dibatasi sesuai arahan pemerintah untuk mengindari penyebaran virus corona. Dalam keterbatasan tersebut, “Cinta Kasih Kristus Menggerakan Persaudaraan” menjadi pilihan tema Natal tahun ini oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI).

Bapak Silaban, koordinator pelaksana panitia natal di gereja St. Paskalis mengatakan bahwa anggota panitia Natal tahun 2021 diisi oleh karyawan sekretariat paroki dan beberapa anggota Tim Gugus Kendali Paroki (TGKP).

Jumlah seluruh petugas gabungan, dibatasi maksimal 60 orang untuk dua kali perayaan Malam Natal. Petugas yang terlibat dibagi dalam tiga kategori, yaitu petugas Liturgi; Tata Tertib (Tatib) dan Komsos (Komunikasi Sosial). Petugas Liturgi meliputi lektor, misdinar, koor, prodiakon. Sedangkan Tata Tertib meliputi petugas Keamanan internal, Parkir, Pemeriksa Suhu, Pemeriksa Belarasa, Pemeriksa Peduli Lindungi, Penjaga kolekte dan Pemandu tempat duduk. Petugas Komsos bertugas memastikan penayangan perayaan Misa secara live streaming berjalan dengan lancar.

Tempat duduk bagi umat dipisah sesuai dengan kendaraan yang digunakan. Untuk umat yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua dan kendaraan umum lewat pintu gerbang utama. Di dalam gereja mereka diarahkan duduk di bangku yang menghadap altar di bagian belakang. Umat yang berjalan kaki atau bermobil masuk melalui pintu gerbang yang biasa digunakan sebagai pintu keluar. Di dalam gereja, umat yang berjalan kaki diarahkan duduk menghadap altar di bagian kanan dekat panti koor, sedangkan umat yang berkendara roda empat duduk menghadap altar di bagian kiri dekat patung Bunda Maria.

Pemisahan tempat duduk ini bertujuan untuk memudahkan tracing atau pelacakan dan membatasi penyebaran virus apabila terdapat umat yang sakit atau OTG (orang tanpa gejala) namun lolos pemeriksaan.

Petugas di bagian Tatib mendominasi jumlah petugas. Hal ini dikarenakan mengantisipasi umat yang kesulitan menggunakan gawai untuk memindai Quick Respon (QR) Belarasa maupun aplikasi Peduli Lindungi. Model gawai umat yang tidak kompatibel atau tidak sesuai turut mempengaruhi kecepatan reaksi dalam memindai QR, membuat proses identifikasi memakan waktu dan menimbulkan antrian atau kerumunan.  Hal itu sangat dihindari panitia.

Keberadaan petugas di bagian tatib khususnya Pemeriksa Belarasa dan Pemeriksa Peduli Lindungi sangat membantu umat.  Hal itu ditegaskan Ibu Anna Maria umat wilayah Maria Fatima VI “Dulu mendaftar misa harus daftar ke ketua lingkungan sekarang langsung ke Belarasa. Susah karena harus Scan dulu. Saya kan HP orang tua untung ada kenalan petugas yang membantu”, ungkapnya.

Kenyataanya, masih banyak umat yang ingin mengikuti misa malam natal. Namun, mereka tidak mendaftar di website Belarasa.  

“Masih banyak ditemukan umat yang Misa tanpa menggunakan QR jadi mereka masih datang langsung tanpa QR, dipikir sudah bisa lanjut misa seperti sebelum pandemi jadi tanpa daftar hanya datang menggunakan peduli lindungi, ” tandas Pak Sutrisna, tatib bagian gerbang motor.  Solusinya, umat yang hadir tanpa mendaftar di Belarasa.id diarahkan ke aula atas.

Misa Malam Natal yang pertama (24/12) pukul 17.00 dihadiri sekitar 500 umat yang dibagi dalam tiga ruang. Ruang di dalam gereja dibatasi hanya untuk 300 Orang, di Aula bawah 120 orang dan sisanya diarahkan panitia duduk di aula atas.  Pada Misa kedua pukul 20.00 jumlah umat tidak sebanyak misa pertama. Padahal, kapasitas ketiga ruang tersebut pada misa-misa besar biasanya mampu menampung sekitar 1500 umat dalam sekali perayaan.

Perhatian dari pemerintah selama perayaan Natal berlangsung berupa petugas keamanan gabungan dari TNI, POLRI, SATPOL PP dan Tim medis dari Puskesmas.

Natal Pagi

Sementara pada Misa Natal tanggal 25 Desember, umat yang hadir tidak sebanyak pada misa malam Natal sehari sebelumnya. Misa Natal dilaksanakan tiga kali pukul 07.30, 10.00 dan sore pukul 17.00

Masih dalam tema Natal “Cinta Kasih Kristus Yang Menggerakan Persaudaraan”, Romo Thomas Ferry Suharto dalam homili berdasarkan Injil Yohanes 1: 1-18 berpesan kepada umat untuk menjadi penggerak yang sungguh-sungguh mampu menggerakan persaudaraan.

“Jadi tidak ada diantara kita yang sama sekali tidak bisa memberi, tidak bisa peduli karna kita semua bisa menjadi alat bagi Tuhan untuk menyalurkan berkat. Maka persaudaraan yang akan kita gerakkan adalah persaudaran yang saling berbagi, saling memperhatikan, saling peduli, saudara yang tidak ementingkan diri sendiri tapi terbuka kepentingan orang lain khususnya mereka yang lebih lemah, dan lebih membutuhkan pertolongan kita.”

Natal Kado Anak-Anak

Dibayangi Pandemi, Lingkungan III Wilayah St. Kristoforus tetap berbagi bingkisan Natal kepada anak-anak. Situasi pandemi yang belum berakhir membuat anak-anak tidak bisa ikut merayakan Natal di gereja. Pengurus lingkungan III Kristoforus berinisiatif menghibur anak-anak dengan berkeliling mengunjungi rumah umat satu persatu. Dengan berpakaian Santa Claus, mereka berkeliling untuk membagikan kado natal bagi anak-anak pada hari Natal (25/12) sekitar Pukul 16.00.

Kado dan bingkisan sederhana berisi berbagai aksories, mainan dan celengan membuat anak-anak tersenyum gembira. Tak hanya anak-anak umat katolik saja yang dibagi, anak-anak non katolik juga mendapat bingkisan sebagai tanda persaudaraan. Natal menjadi kesempatan berbagi karena mengingatkan umat Katolik bahwa Yesus lahir kedunia sebagai pemberian atau hadiah terindah Allah bagi manusia.

Pesan Natal kali ini sekali lagi mengingatkan kita semua pada homili Rm. Ferry OFM. “Mari kita mendukung keselamatan bersama dalam membangun persaudaraan dan kepedulian bersama. Memang PPKM tidak jadi di laksanakan tapi kita tahu bahwa Pandemi belum berakhir. Maka baik sebagai gereja dan sebagai persaudaraan sungguh paham dan peduli pada keselamatan bangsa kita dan mengajak mendukung, untuk sementara natal ini tidak berpergian. Kita dirumah saja.  Kita seperti belajar seperti sapi, tinggal dan merenungkan kembali, dengan keluarga kita, bangkit lagi membangun satu sama lain. Yesus lahir bukan hanya di kandang natal tapi lahir ditengah-tengah kita,“ pungkas Pastor asal Yogyakarta itu.  (TA&Vina)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.