Refleksi Batin: “Kamu sih masih mending…”

Kamu sih masih mending…

Pernahkah Anda mendapatkan jawaban seperti itu dari orang lain? Atau justru Anda yang mengatakan kalimat itu kepada orang lain?

Sadar atau tidak, seringkali segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, kita anggap sebagai sebuah kompetisi.

Lihat tetangga punya mobil baru, jadi kepengen ikut beli. Lihat tetangga rumahnya direnovasi jadi lebih bagus, kita juga merasa tidak mau kalah, kalau bisa rumah kita harus lebih bagus lagi.

Image by Serena Wong from Pixabay

Rasa persaingan itu juga muncul saat seseorang bercerita mengenai penderitaan yang dia alami, dan kemudian lawan bicaranya menjawab dengan diawali kalimat “Kamu sih masih mending, …”

Niatnya mungkin ingin memotivasi, tapi tidak sadar ada ego dan kesombongan yang terucap. Seolah berkata, “Penderitaanmu itu tidak ada artinya, masa baru segitu aja sudah ngeluh….cemen

Seorang psikiater pernah berkata di akun sosial medianya, “Ego itu luar biasa licin, bisa menyelinap tanpa kita sadari. Bahkan melalui niat baik memotivasi, ego dan kesombongan juga bisa menampakkan wajahnya. Penderitaan dijadikan kompetisi, seolah yang kurang menderita tidak berhak untuk berkeluh kesah.”

Mari kita belajar untuk berempati. Karena batas toleransi seseorang terhadap suatu masalah itu berbeda-beda. Jangan pernah membandingkan penderitaan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Berempatilah.

Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya.

Berkah Dalem.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.