Renungan Minggu Biasa XXXIII: Akhir Zaman atau Hari Kiamat. Apakah Benar Ada dan Akan Terjadi?

Hari Minggu Biasa XXXIII, Warna Liturgi: Hijau
Bacaan Pertama: Dan. 12:1-3 Mazmur Tanggapan: Mzm. 16:5,8,9-10,11
Bacaan Kedua: Ibr. 10:11-14,18 Bacaan Injil: Mrk. 13:24-32

Renungan Minggu Biasa XXXIII: Akhir Zaman atau Hari Kiamat. Apakah Benar Ada dan Akan Terjadi?

Akhir zaman atau kerapkali dimengerti sebagai hari kiamat merupakan sebuah isu yang cukup ramai diperbincangkan baik dalam kalangan orang Kristen maupun non-kristen.  Berkaitan dengan hal ini tentu kita masih ingat beberapa peristiwa, misalnya pertama, peristiwa yang terjadi di Baleendah, Kabupaten Bandung pada pertengahan November 2003 lalu yang sempat menggemparkan masyarakat dan khususnya gereja-gereja yang ada di Indonesia. Di mana pada saat itu seorang pendeta dengan beraninya mengatakan bahwa akhir zaman akan segera terjadi dan menentukan saatnya Tuhan Yesus datang yang kedua kali atau yang populer dengan kiamat. Keberanian pendeta tersebut mengeluarkan penyataan tersebut mengakibatkan banyak orang Kristen khususnya jemaat yang dilayani oleh sang pendeta ini menjadi tidak tertib hidupnya. Segala harta mereka dimusnahkan serta segala aktivitas hidup mereka otomatis berhenti. Mereka tidak mau bekerja lagi selain berkumpul di suatu tempat menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus seperti yang dinyatakan oleh sang pendeta tersebut. Alhasil sampai pada tanggal dan hari yang dimaksud sang pendeta tersebut tiba, Yesus tidak datang juga. 

Kedua, aliran milenarisme. Aktor intelektualnya adalah David Koresh. David Koresh menyatakan bahwa ia sudah tahu kapan kiamat itu akan tiba. Harinya, tanggalnya, dan jamnya, ia sudah tahu. Dan ribuan orang percaya pada omongan David ini. Ia kemudian mengajak semua pengikutnya mempersiapkan diri menyambut datangnya kiamat. Tapi kiamat ternyata tidak kunjung datang. Akhirnya, David dan para pengikutnya bunuh diri ramai-ramai. Mereka percaya bahwa dengan bunuh diri massal, mereka akan diangkat dalam kemuliaan surgawi. Peristiwa ini terjadi pada 28 Februari hingga 19 April 1993.

Ketiga, apa yang terjadi di sebuah desa kecil di Filipina utara di mana orang-orang di situ percaya bahwa akan terjadi kiamat (dunia ini akan segera berakhir), dan hal ini akan didahului oleh kegelapan yang berlangsung selama tiga hari. Oleh karena itu, orang-orang yang ingin selamat harus mempersiapkan plastik hitam untuk menutup jendela rumah mereka. Mereka juga harus menyiapkan lilin dan korek api yang sudah harus diberkati oleh imam. Mereka diharapkan untuku berdoa supaya mengurangi kemarahan Allah. Pada hari-hari yang dinantikan itu ternyata tidak terjadi apa-apa. Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan bahwa dunia akan kiamat.

Masih banyak contoh atau cerita lain yang dapat kita sebutkan berkaitan dengan ajaran akhir zaman dan bagaimana sikap dan perilaku orang terhadap ajaran semacam ini.

Dalam bacaan Injil yang kita dengar pada hari ini Yesus berbicara mengenai akhir zaman. Bahwa pada akhir zaman itu, akan terjadi malapetaka besar. Matahari (langit) menjadi gelap. Bulan tidak bercahaya. Bintang-bintang akan berjatuhan, dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Inilah gambaran yang menunjukkan bahwa dunia ini akan berakhir. Segala sesuatu akan berakhir. Namun, kapankah akhir zaman itu akan tiba? Tidak seorang pun tahu. Malaekat-malaekat juga tidak tau. Bahkan Putera Manusia tidak. Hanya Bapa saja yang mengetahuinya. Karena itu, Yesus mengingatkan kita semua untuk berjaga-jaga. 

Apakah benar ada (akan terjadi) kiamat? Apakah berarti Yesus dalam Injil hari ini menakut-nakuti kita dengan cerita tentang akhir zaman itu? Tentu TIDAK. Kita tahu yang diwartakan oleh Yesus adalah kabar gembira. Karena itu, apa yang dikatakanNya mengenai akhir zaman harus dipahami dalam konteks warta atau kabar gembira. Aspek gembira dari warta yang disampaikan oleh Yesus sendiri dalam bacaan Injil hari ini adalah Anak Manusia (Tuhan kita Yesus Kristus) akan datang dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. 

Oleh karena itu, kita mesti bergembira karena apa yang dikatakanNya bahwa Ia akan datang dan mengantar kita semua ke Rumah Bapa, yaitu surga. Sebagai orang Kristen yang hidup, kita adalah peziarah-peziarah yang sedang berarak menuju Rumah Bapa, surga itu sendiri. Rumah Bapa menjadi tujuan kita yang terakhir. Maka, dapat dimengerti bahwa hidup kita ini adalah suatu ziarah. Kita berziarah bersama dan dalam Yesus yang adalah harapan kita Rumah Bapa itu. Dengan demikian, warta suci mengenai akhir zaman yang kita dengarkan pada sore hari ini bukan untuk menakut-nakuti kita.

Menurut saya yang perlu kita cemaskan atau takutkan sebetulnya bukan soal akhir zaman, tentang hidup kita kelak nanti. Kalau itu yang terjadi dalam diri kita maka kita bisa saja seperti orang-orang yang saya cerita tadi. Mereka terlalu cemas memikirkan keadaan mereka pada akhir zaman (hari kiamat): apakah hidup di dunia ini akan masih berarti? Apakah perjuangan mereka masih mempunyai nilai? Atau apakah mereka bisa hidup berfoya-foya saja saat ini sebelum dunia ini akan berakhir? Mereka ternyata tidak hanya keliru dan salah, tetapi bodoh, memaknai firman Tuhan. Mereka lalaikan hidup saat ini. Bahkan saking percayanya pada pengajaran nabi-nabi palsu dan menyesatkan itu lalu ramai-ramai bunuh diri. Tindakan bodoh! Mereka hanya menjadi pahlawan gadungan yang bodoh karena tindakannya sendiri.  

Bagi kita yang sungguh percaya kepada Yesus, hemat saya, hal yang perlu kita cemaskan atau takutkan adalah hidup kita sekarang ini. Apakah hidup kita saat ini dan sekarang ini baik dan sesuai dengan titah Tuhan atau tidak? Apakah kita sudah melayani dengan baik atau tidak? Apakah kita rela memaafkan-mengampuni yang bersalah atau menyakiti hati saya atau tidak? Apakah kita menyelesaikan tugas dan peran saya sebagai sebagai suami-isteri, anak, karyawan, dll dengan baik atau tidak? Atau justru di dalam hidup kita sikat, tutur kata, dan perbuatan kita membuahkan lima (5) hal: menjadi ABCDE (panca sikap)

Apa itu ABCDE? ABCDE, yang saya maksud adalah:

  1. Anggap remah/acuh tak acuh; menjadi pribadi yang apatis, tidak peduli dengan orang lain.
  2. Besok saja; menjadi orang yang selalu menunda-nunda pekerjaan, bahkan termasuk doa dan kegiatan menggereja. 
  3. Cuma di mulut lain di hati, mengaku percaya Tuhan tetapi hanya di mulut dan KTP saja. Kelakuan dan hidupnya berbeda dengan imannya.
  4. Doyan bohong, tidak setia/menelikung, dan bermalas-malasan: menjadi orang yang suka bohong dan suka bolos atau malas ke gereja, malas berdoa, dll. Mengaku percaya namun masih suka percaya yang lain seperti tahyul, dukun dsb; 
  5. Enggan bertobat/tak rela bertobat, Enggan pula untuk memaafkan/mengampuni; menjadi orang yang egois.

Sikap ABCDE itulah yang harus kita cemaskan atau takut ada dalam kehidupan kita. Kalau kita masukan dalam kontkes pengajaran tentang akhir zaman yang kita dengarkan pada hari ini, maka menurut saya, setiap hari adalah semacam hari terakhir hidup kita di dunia ini. Karena hari ini seperti hari terakhir bagi kita, maka yang kita buat adalah kebaikan dan hidup menurut kehendak Tuhan sendiri. 

Sikap kita juga bisa menjadi lima: menjadi ABCDE (panca sikap) sebagai tindakan berjaga-jaga yaitu: 

  1. Aku percaya: hanya percaya kepada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus, dan sekaligus menolak segala bentuk takhayul, dukun, dsb. Bentuk percaya ini tidak hanya di mulut atau di KTP saja.
  2. Benar-benar taat pada Firman Tuhan, yaitu orang yang mendengar dan menjalankan Firman Tuhan seperti orang yang membangun rumahnya di atas batu karang yang teguh.
  3. Cakap, cermat, cepat, dan cap jempol dalam pelayanan. Kita seharusnya terlatih melakukan pekerjaan Tuhan  
  4. Dahulukan kehendak Tuhan dan kepentingan orang lain. Kita harus memeriksa diri terhadap segala yang kita lalukan apakah sesuai dengan kehendak Tuhan dan mengutamakan kepentingan sesama kita.
  5. Ekstra sabar, rela memaafkan-mengampuni: contoh kecil yang bisa kita lihat dalam hidup
  • Ketika seorang istri mau mengampuni suaminya, yang telah mengkhianati janji perkawinan mereka; 
  • Ketika kita mau mengulurkan tangan kepada seorang sahabat yang telah menyakiti hati kita; ketika kita mau memaafkan orang yang berulang kali membuat kita jengkel dan merasakan sakit yang begitu dalam.
  • Ketika kita terus saja terlibat dalam pelayanan, walau orang lain kadang-kadang mencela kita, omong jelek tentang kita, salah paham dengan kita.

Inilah panca sikap yang bisa juga menjadi sikap berjaga-jaga kita menjelang kedatangan Tuhan. Sikap ini pula membawa kita untuk menerima Tuhan sebagai raja yang berkuasa dalam hidup kita. AMIN*** (Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.