Hari Minggu Biasa II, 16 Januari 2022

Bacaan Pertama: Yes.62:1-5; Bacaan Kedua: 1Kor.12:4-11; Bacaan Injil: Yoh.2:1-11

Bersama Tuhan Kita Pasti Aman

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Sebagai ciptaan yang dianugerahi akal budi dan kebebasan, manusia dapat melakukan apa saja yang menghantarnya pada kebahagiaan, sebagai tujuan dari hidupnya. Bahkan, dengan akal budi dan kebebasannya manusia memilih menjauh dan tidak percaya lagi dengan Tuhan. Tuhan digeser menjadi yang kemudian, menjadi yang kedua. Kehendak dan rencana Tuhan dipandang sebagai penghalang kebebasan manusia. Kebebasan manusia direnggut dan dikalahkan oleh rencana Tuhan. Tuhan hanya dibutuhkan jika manusia mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidupnya. Bacaan-bacaan suci pada hari ini mengingatkan kembali kepada kita akan kesetiaan Tuhan yang selalu ada bersama kita, meskipun kita melupakan-Nya. Akan tetapi, dengan akal budi dan kebebasan kita, terkadang keberadaan dan kehadiran Tuhan tidak kita sadari karena kebebasan kita untuk lebih mendahulukan kepentingan-kepentingan lain daripada Tuhan. Ketika kita berjumpa dengan kesulitan-kesulitan yang berat, kita baru mencari Tuhan dan memohon pertolonganNya. Kita tidak sadar bahwa sesungguhnya hidup yang tidak bersandar kepada Tuhan adalah hidup yang rapuh, hampa, sunyi dan bersifat sementara saja.

Nabi Yesaya, dalam bacaan pertama, mengisahkan tentang keselamatan umat Israel. Keadaan Israel, khususnya Yesrusalem sedang mengalami kehancuran. Yesaya melihat keadaan Israel seperti istri yang ditinggalkan suaminya. Tanpa suami, istri menjalani hidup seorang diri dan keadaanya terasa hampa dan sunyi.  Bangsa Israel kehilangan kekuatan dan kebanggaannya, yaitu Allah. Demikianlah ikatan antara Allah dengan umatNya digambarkan dengan persekutuan perkawinan, antara suami dan istri. Bagi Yesaya, kehilangan Tuhan adalah kehilangan segala-galanya. Meskipun umta Israel mengalami kehancuran dan kehilangan segala-galanya, Yesaya tetap percaya bahwa Tuhan akan segera memulihkan nasip umat-Nya sesuai janjiNya. Tuhan memulihkan keadaan Israel, sehingga mereka akan disebut negeri “yang bersuami”. Demikianlah, kehadiran Tuhan membawa kemenangan bagi Israel yang mengalami kehancuran. Dalam dan melalui Tuhan, kehancuran dan penderitaan akan dikalahkan.

Dalam bacaan kedua, Paulus berbicara tentang rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Paulus menegaskan bahwa sumber karunia itu adalah Allah. Allah yang menghendaki dan menganugerahkan karunia-karunia itu kepada tiap-tiap orang. Meskipun karunia-karunia dianugerahkan kepada tiap-tiap orang, hal itu bukan berarti hanya untuk kepentingan diri, melainkan demi kepentingan bersama juga. Roh Allah memampukan tiap-tiap orang untuk berkata-kata dengan hikmat, pengetahuan, karunia menyembuhkan, membedahkan bermacam-macam roh, dan menafsirkan bahasa roh. Karunia Roh menunjukkan adanya kasih dan kepercayaan Allah kepada manusia. Allah hadir dan berkarya dalam diri manusia, manusia menjadi mitra kerja Allah. Menyadari bahwa karunia yang kita terima berasal dari Allah, maka kita tidak pantas untuk bermegah diri dihadapan-Nya dan sesama. Selain itu, kita patut dan harus menyadari bahwa karunia-karunia Allah itulah yang menghidupkan kita, yang memampukan kita menjalani kehidupan ini dengan baik. Tanpa karuniaNya, kita tidak bisa melangsungkan hidup ini dengan baik, aman, dan nyaman.

Sedangkan dalam bacaan injil kita mendengar kisah tentang perkawinan di Kana. Dalam kisah tersebut, Yesus melakukan mujisat yang pertama yakni mengubah air menjadi anggur. Anggur adalah salah satu jenis minuman yang selalu dihidangkan dalam acara pesta. Ketika terjadi kekurangan anggur, acara perkawinan tersebut menjadi tidak nimat dan menyenangkan. Mungkin, ada undangan yang pulang lebih dulu karena kekurangan anggur. Semuanya akan merasa cemas dan tidak puas, apa lagi tuan pesta pasti sangat cemas, panik dan tidak nyaman. Di tengah situasi kekurangan anggur, Maria datang dan memberitahukannya kepada Yesus. Yesus melakukan mujisat, mengubah air menjadi anggur yang baik. Peristiwa ini menjadi peristiwa iman yang menyingkapkan kasih Tuhan kepada umat-Nya. Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya beada dalam situasi “kekurangan anggur” (kesulitan dan penderitaan). Bersama-Nya, kita umat beriman pasti aman dan baik-baik saja, asalakan kita menjadikan-Nya sebagai yang utama dalam hidup kita.

Saudara dan saudari yang terkasih, kita adalah umat beriman yang sungguh percaya bahwa Tuhan adalah segala-galanya bagi hidup kita. Hari ini, melalui sabda-Nya, Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan akan setia mengasihi kita dalam setap saat, bahkan Ketika kita tidak sadar akan hal itu. Menyadari kasih Tuhan itu, sebagai umat beriman, kita diajak untuk selalu menyadari dan menemukan Tuhan dalam hidup kita dan menjadikan Dia sebagai Jalan, kebenaran dan hidup kita. Bersama Tuhan kita pasti aman dan semua situasi “kekurangan anggur” (kesulitan dan penderitaan) pasti teratasi dengan baik. Mari dan datanglah kepada-Nya selalu.

Tuhan memberi kita damai.

Sdr. Fano, OFM

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.