Renungan Hari Minggu Adven I : Dua Wajah Yerusalem

Bacaan Pertama: Yer. 33:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14;
Bacaan Kedua: 1Tes. 3:12-4:2; Bacaan Injil : Luk. 21:25-28.34-36

Renungan Hari Minggu Adven I : Dua Wajah Yerusalem

Semoga Tuhan menganugerahimu damai sejahtera!

gerejapaskalis.or.id – Saudara – saudari sepenantian akan Yesus. Kita membuka masa Adven dengan kejutan dari Lukas yang mengangkat gelagat kosmik akhir zaman dalam Injilnya yang kita renungkan pekan ini. Gambaran kehancuran yang disajikan Lukas yang bahannya sebenarnya diambil dari Markus (Mrk. 13:24-27) sebenarnya bukan pertama-tama hanya bicara soal akhir zaman tetapi bicara soal keyakinan jemaat Lukas akan kebenaran wahyu tersebut dengan melihat apa yang telah mereka saksikan sendiri yakni kehancuran Yerusalem pada th 70 M oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Titus untuk meredakan pemberontakan kaum Yahudi yang telah lama menderita di bawah jajahan kekasiran Roma.

Apa yang diungkapkan Lukas (21:20-24) bahwa orang yang mengalami bencana akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kemuliaan-Nya mengingatkan kita akan Nubuat Daniel (Dan.7:13) yang menyadarkan kita bahwa kekuatan jahat suatu ketika akan dipunahkan Tuhan dan saat itulah Anak Manusia yakni Yesus menerima kuasa atas seluruh alam semesta ciptaan Bapa-Nya. Saat inilah juga berakhir kota Yerusalem dari zaman Perjanjian Lama karena kota itu telah dipenuhi dengan pelbagai kekuatan jahat yang menolak kehadiran Yesus. Kehancuran Yerusalem di tahun 70 M oleh serbuan Romawi diyakini oleh jemaat Lukas sebagai penegasan akan kebenaran tersebut di atas.

Meskipun sesudah kehancuran Yerusalem, banyak orang Yahudi akhirnya kembali dan membangun kembali Yerusalem namun kepunahan yang dimaksudkan Lukas bukan lagi kepunahan fisik namun juga punahnya kepentingan kita dalam hidup beriman akan perlunya realitas fisik Yerusalem. Yang lebih kta butuhkan untuk perkembangan iman kita sekarang ini adalah realitas rohani Yersualem. Yerusalem baru yang hendaknya kita dambakan sekarang ini adalah Yerusalem rohani yang melambangkan tempat di mana Yesus menyatakan diri-Nya secara utuh ketika wafat dan bangkit.

Menarik bahwa Lukas memakai dua kata yang berbeda dalam menyebut kota Yerusalem. Kata pertama yang dipakai adalah “Ierousaleem” dan kata lain yang dipakai adalah “Hierosolyma”. Kedua cara penyebutan tersebut melambangkan dua wajah Yerusalem yang tak hanya berbeda tetapi bahkan lebih daripada itu saling bertolak belakang sehingga untuk dapat melihat wajah yang kedua, wajah ppertama mesti punah dulu dari mata kita.

Ierousalem” melambangkan wajah Yerusalem dari zaman Perjanjian Lama. Kota yang melambangkan penduduknya yang dipenuhi dengan pelbagai kekuatan yang menolak Yesus atau kekuatan yang membuat kita berpaling dari Yesus dan tak bisa menerima apalagi mengikuti-Nya. Sementara “Hierosolyma” adalah lambang Yersualem baru yang hendaknya kita dambakan. Lambang kota yang penduduknya tak hanya menerima namun bahkan lebih daripada itu menyambut kehadiran Yesus.

Namun kedua wajah Yerusalem tersebut dalam realita hidup kita seringkali seperti topeng yang bertumpuk-tumpuk. Wajah “Hierosolyma” kadang tertutupi dan terhapus oleh wajah “Ierousalem” seperti kita lihat bahwa orang-orang yang menyambut Yesus saat kedatangan Yesus ke Yerusalem dengan lauapan sukacita dan seruan gegap gempita: Hosanna tiba tiba beberapa hari kemudian dapat berbalik 180 derajat berseru di hadapan Pilatus saat Yesus diadili dengan teriakan yang tak kalah keras: Salibkan Dia! Oleh karena itulah agar tak terperangkap dalam wajah “Ierousalem” Yesus mengingatkan kita untuk berjaga-jaga “agar hati tidak dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari.” (Luk. 21: 34).

Pesta pora dan kekhawatiran adalah dua sikap ektrem yang saling bertolak belakang yang mungkin dapat timbul dalam hidup kita sehari hari. Di satu sisi ada orang yang hidupnya melulu mencari kesenangan dan tidak peduli akan akhir zaman. Di lain pihak ada juga orang yang terlalu terpaku pada akhir zaman sehingga selalu dilanda kegelisahan dan ketakutan. Sikap yang sama kita jumpai juga dalam masa pandemi ini. Di satu sisi ada orang yang cuek bebek dengan pandemi dan tak peduli dengan protokol kesehatan namun di sisi lain ada orang yang begitu ketakutan sampai bersikap paranoid dengan pandemi. Kedua siakp ini tak hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain yang ada di sekitar mereka. Dalam perspektif akhir zaman kedua sikap ini juga membuat kita terperangkap dalam wajah Yerusalem lama yang hendaknya kita tinggalkan agar kita dapat menyongsong kehadiran Tuhan dengan wajah Yerusalem yang baru.

Semoga masa Adven ini membuat kita berjaga-jaga maksudnya agar kta semakin sadar akan wajah Yersalem mana yang selama ini menutupi muka kita sehingga masa ini menjadi masa untuk menanggalkan wajah Yersalem lama untuk dapat mengenakan wajah Yerusalem baru yang membuat kita mampu menerima dan menghadapi kehadiran Yesus. Tuhan memberkati kita.

Rm. Thomas Ferry Suharto, OFM

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.