Renungan Hari Minggu Biasa XIV “Menjadi Pembawa Damai”

Renungan Hari Minggu Biasa XIV “Menjadi Pembawa Damai”

Bacaan I: Yes. 66: 10-14c Bacaan Kedua: Gal. 6: 14-18 Bacaan Injil: 10: 1-12.17-20

“Menjadi Pembawa Damai”

Beberapa hari terakhir ini, tidak hanya Indonesia tapi juga Dunia Internasional, sedikit banyak memperbincangkan langkah berani Pak Jokowi (Presiden RI) yang mengadakan kunjungan ke dua (2) negara yang tengah berkonfik (berperang hebat sejak 24 Februari 2022) yaitu Rusia dan Ukraina. Tujuan kunjungan itu selain kunjungan kenegaraan untuk membangun hubungan bilateral, tapi juga untuk mewujudkan perdamaian bagi kedua negara yang tengah berperang. Pada Rabu, 29 Juni 2022 tepat pkl 15.00 waktu setempat, Presiden Jokowi tiba di Ukraina dan disambut oleh Presiden Volodymir Zelenskyy. Sesudah pertemuan dengan Presiden Zelenskyy, Presiden Jokowi kemudian mengunjungi Rusia pada Kamis, 30 Juni 2022. Bersama rombongan, Presiden Jokowi diterima di Istana Kremlin-Moskow dan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

 

Lepas dari berbagai macam tanggapan termasuk tanggapan negatif berupa berbagai nyinyiran atas kunjungan itu, kita semua tahu bahwa niat akan terwujudnya perdamaian dan penghargaan terhadap martabat manusia menjadi salah satu tujuan kunjungan Presiden Jokowi terhadap kedua negara yang tengah berkonflik itu. Presiden Jokowi tampil sebagai jembatan komunikasi antar kedua pemimpin negara sekaligus menawarkan ide-ide baik demi terciptanya perdamaian, karena konflik kedua negara membawa akibat yang luas untuk dunia. Misi perdamaian yang dibawa membuat banyak pihak mengatakan bahwa pengaruh Jokowi mengubah dunia.

 

Dalam sejarah dunia, jauh sebelum itu ada pula misi perdamaian yaitu kunjungan Santo Fransiskus Assisi ke Damietta dan bertemu penguasa Mesir, Sultan Malikh Al-Khamil, pada 1219, ketika sedang berkecamuk Perang Salib. 800 thn kemudian, momentum perjumpaan yang dilandasi misi perdamaian dan cinta ini, kembali terulang ketika Paus Fransiskus berkunjung ke semenanjung Arab pada 3-5 Februari 2019 yang lalu, dan menghasilkan sebuah dokumen Abu Dhabi: Persaudaraan Insani (Human Fraternity) yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Dr Ahmad al-Tayyib.

 

Semua langkah dari para tokoh tersebut dilandasi oleh cinta akan perdamaian dan kemanusiaan, karena kita tahu orang yang bernurani tentu mendambakan damai dalam hidup dengan siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

 

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini setidaknya memberikan gambaran mengenai pengharapan akan cinta, perlindungan, kesejahteraan, keselamatan, dan damai. Yesaya, dalam bacaan pertama mewartakan kabar sukacita kepada orang-orang buangan Babilonia bahwa mereka akan dirawat “seperti seorang ibu yang menghibur bayinya” (bdk, Yes.66:13).  Sementara dalam bacaan Injil, menunjukkan kepada kita bagaimana Yesus mengajarkan para muridNya untuk memberikan salam damai kepada setiap rumah yang mereka masuki. Yesus sendiri pun berulang kali berdoa mohon damai untuk dunia dan para muridNya. Ia pun seringkali menyapa banyak orang dengan salam khas, “damai bagimu.” Sapaan yang sama seringkali dilakukan oleh imam setiap kali merayakan sakramen-sakramen termasuk ketika merayakan Ekaristi Kudus. Namun, apakah yang dimaksudkan Yesus ketika berbicara tentang damai itu?

 

Hemat saya, ketika Yesus berbicara tentang damai maka damai itu tidak hanya sekadar tidak ada konflik, tidak ada perang, tidak ada perseteruan, dan lain-lain. Damai yang dimaksudkan sebetulnya adalah syallom yang berarti bebas dari rasa takut. Damai berarti keutuhan hidup, sukacita, kegembiraan, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia untuk kepenuhan hidup. Maka mengusahakan dunia yang penuh damai berarti mengusahakan sebuah dunia yang bebas dari ketakutan dan kebencian, dunia yang diliputi oleh sukacita, kegembiraan, dan kepenuhan hidup.

 

Ketika Yesus mengajarkan para muridNya untuk mengucapkan ‘salam damai’ kepada setiap rumah yang mereka masuki maka hal itu mengandung banyak arti. Di dalam salam damai itu terkandung satu tuntutan bahwa kabar gembira yang dibawa oleh para murid hendaknya menjadi sukacita dan kegembiraan bagi orang-orang yang menerimanya. Para murid tidak boleh menjadi sumber perselisihan, perseteruan, konflik, pertengkaran, atau permusuhan. Sebaliknya, kehadiran para murid hendaknya menjadi sumber sukacita, kegembiraan, dan kebahagiaan.

 

Ajaran Yesus bagi para murid ini juga berlaku sama bagi kita semua pengikutNya. Kita dipanggil untuk tugas yang sama yaitu menjadi pembawa damai, sukacita bukan sebaliknya kehadiran kita menjadi sumber konflik dan pertengkaran, penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain. Itu sekaligus berarti kita dipanggil untuk menolak (membersihkan) diri kita dari kebencian, iri hati, cemburu, egoisme, amarah, dengki, dan sikap mau menang sendiri.

 

Harus kita akui bahwa tidak mudah menjadi pembawa damai dalam kehidupan kita karena kita berhadapan dengan kelemahan dan keterbatasan manusiawi kita. Oleh karena itu, kita perlu memohonkan anugerah dan rahmat dari Tuhan agar kita dikuatkan dan diteguhkan untuk menjadi pembawa damai yang dapat diandalkan dalam kehidupan kita.

 

Santo Fransiskus Assisi, Paus Fransiskus, dan Presiden Jokowi adalah beberapa contoh tokoh dari sekian banyak tokoh yang berusaha mewujudkan damai. Kita juga menjadi bagian dari beberapa tokoh yang tidak disebutkan nama kita, yang juga berusaha menjadi pembawa damai bagi sesama dalam hidup kita. Mari kita wujudkan itu! Tuhan memberkati selalu. AMIN***

[Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM]

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.