Renungan Minggu: “Apakah Tuhan Membenci Orang Kaya?”

Renungan Minggu

Renungan Hari Minggu Biasa XXVIII

Bacaan: Keb. 7:7-11, Ibr. 4:12-13, Mrk. 10:17-27

Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM

gerejapaskalis.or.id – Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (Mrk. 10:25). Mendengar (membaca) pernyataan Yesus ini mungkin membuat kita bertanya-tanya, mengapa orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah? Mungkin ada juga yang merasa takut, sebab hartanya banyak. Apakah memang betul semua orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah? Apakah Tuhan membenci orang kaya? Lalu bagaimana jika kekayaan seseorang diperoleh melalui usaha dan kerja keras dan bukan hasil korupsi atau curian? Atau bagaimana dengan orang kaya yang dermawan, yang murah hati, dan yang tidak kikir? Apakah mereka tetap sukar untuk masuk ke dalam kerajaan Kerajaan Allah?  

Menarik untuk kita cermati dan renungkan bersama. Bacaan injil hari ini (Mrk. 10:17-30) berkisah tentang seseorang yang hendak memperoleh hidup kekal dan kemudian datang kepada Yesus untuk bertanya tentang syarat memperoleh hidup kekal. Hampir semua perintah Allah telah ia laksanakan demi memperoleh hidup kekal, seperti jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucakpan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayah-ibumu (bdk, Mrk. 10:19). Hanya satu yang kemudian enggan ia lakukan, yakni menjual segala harta miliknya untuk dibagikan kepada orang miskin dan mengikuti Yesus. Yesus katakan kepadanya  “… pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku”  (Mrk. 10:21). Bagaimana respons orang kaya itu setelah mendengar apa yang Tuhan perintahkan?  “…ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya”  (Mrk. 10:22).  Ia kecewa dan sedih. Keengganannya untuk melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini menunjukkan bahwa orang kaya tersebut lebih mencintai hartanya daripada Tuhan.  Keengganan ini yang kiranya menjadi penghambat baginya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ia rela kehilangan Guru yang baik karena lebih memilih harta duniawi.  Sungguh benar apa yang dikatakan Yesus bahwa;  “…di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”  (bdk, Mat. 6:21, Luk, 12:34). Jadi permasalahannya tidak terletak pada jumlah harta yang ia miliki, melainkan pada dirinya sendiri yang sangat bergantung pada harta kekayaan dan takut kehilangan apa yang dimilikinya.

Dengan demikian jelas bahwa Yesus tidak membenci orang kaya dan tidak melarang orang untuk memiliki harta kekayaan. Atau dengan kata lain, Yesus tidak anti orang kaya, apalagi membenci orang kaya. Tidak! Yang dikecam Yesus adalah orang yang sangat bergantung pada harta kekayaannya dan menjadikan harta kekayaan itu sebagai pegangan hidup untuk menggantikan Tuhan. Ketika seseorang sangat bergantung pada harta kekayaannya dan menjadikan itu sebagai satu-satunya pegangan hidup, maka orang seperti ini dengan sendirinya akan kehilangan hidupnya, baik kehidupan di dunia ini maupun kehidupan kekal yang dijanjikan Tuhan. Mengapa? Sebab kekayaan dapat saja membutakan hatinya. Ia menjadi tidak peka terhadap kehidupan di sekitarnya dan mengabaikan orang-orang miskin yang membutuhkan pertolongannya. Ia gagal melihat kehadiran Tuhan di dalam diri orang-orang kecil, sebab yang ada di dalam pikirannya hanyalah bagaimana ia harus mempertahankan dan menambah kekayaan. Kehilangan kekayaan sama artinya dengan kehilangan penjamin dan pegangan hidup. Ia kemudian hanya menjadi budak harta dan tidak menjadi manusia bebas.

Hal inilah yang kiranya menjadi batu sandungan bagi orang kaya di dalam bacaan Injil hari ini untuk memperoleh kehidupan kekal. Kendati ia telah melaksanakan hampir semua perintah Allah, namun sebenarnya ia belum sepenuhnya menyadari apa yang ia lakukan. Ia menaati dan memaknai perintah Allah hanya sekadar sebagai hukum. Ketaatannya kepada perintah Allah tidak dilandasi oleh cinta kasih. Oleh karena tidak dilandasi cinta kasih, ia mengikuti Tuhan dan mengasihi sesama dengan setengah hati. Relasinya dengan orang tua dan sesamanya (bdk, Mrk.10:19), dan bahkan relasinya dengan Tuhan dilaksanakannya hanya karena ditentukan oleh hukum, bukan karena cinta kasih dan belarasa (compassion).

Melalui kisah orang kaya ini Tuhan hendak mengundang kita untuk menjadi pengikut-Nya yang lepas bebas. Sikap lepas bebas dijalani dengan cara mengembangkan semangat berbagi. Artinya kita siap mempertaruhkan segala sesuatu demi Tuhan yang kita imani dan kita cintai. Bukan hanya harta, bahkan nyawa sekalipun harus berani kita korbankan demi Tuhan, sebagaimana Ia sendiri telah menunjukkannya kepada kita ketika Ia mati di palang penghinaan demi menebus dosa-dosa kita. Harta kekayaan yang sekarang kita peroleh melalui usaha dan kerja keras, entah sedikit maupun banyak, hendaknya kita syukuri sebagai pemberian Tuhan. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk memiliki harta, asalkan segala kepemilikan harta tersebut digunakan demi kebaikan dan demi kemuliaan Tuhan. Jangan sampai harta yang kita miliki menjadi batu sandungan bagi kita untuk mengikuti Tuhan. Segala harta yang kita miliki hanyalah sarana untuk mewartakan kebaikan dan kemuliaan Tuhan, bukan menjadi tujuan hiudp kita. Melalui harta milik yang dititipkan Allah kepada kita, kita diajak untuk menyalurkan kasih Allah itu kepada sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Hanya dengan itu harta milik tidak menjadi batu sandungan untuk memperoleh hidup kekal, malah sebaliknya dengan itu kita menjadi semakin dekat dengan Tuhan. AMIN***

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.