Renungan Hari Minggu Biasa VIII: “Iman Menuntut Perwujudan Nyata”

Renungan Hari Minggu Biasa VIII

Iman Menuntut Perwujudan Nyata

Bacaan I: Sir. 27:4-7; Bacaan II: 1Kor. 15:54-58; Bacaan Injil: Luk. 6:39-45

  Bapak, ibu saudara/saudari, teman-teman muda, dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Salam Damai dan Kebaikan! Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan beberapa perumpamaan yang kontradiktif. Sekedar mengingatkan kembali, perumpamaan yang kontradiktif itu adalah orang buta tidak dapat menuntun orang buta, guru tidak lebih dari muridnya, balok di mata sendiri dan selumbar di mata orang lain, pohon yang baik menghasilkan buah yang baik dan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Pembedaan ini secara umum mengajak kita umat beriman untuk menjalani kehidupan secara seimbang atau realistis. Selain itu, kita diajak untuk berjuang bersama dan saling membantu satu sama lain—tidak membiarkan orang lain untuk jatuh dalam pemikiran dan tindakan yang salah. Fokus kontradiksi yang ditekankan dalam renungan ini adalah balok di mata sendiri, selumbar di mata orang lain serta pohon yang baik menghasilkan buah yang baik dan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Melalui dua kontradiksi ini, Yesus mengajarkan kita dua hal. Pertama, sebagai makhluk sosial, kita tidak hidup seorang diri saja, kita membutuhkan kehadiran orang lain demi keutuhan hidup kita. Artinya jika berdasarkan hakikatnya manusia itu adalah makhluk sosial maka ia harus menerima dan memperhatikan saudara lain. Konsekuensinya jelas, manusia tidak hanya menuntut orang lain menghormatinya, tetapi ia juga dituntut untuk menghormati orang lain terlebih dahulu. Kedua, manusia tidak hanya sepenuhnya melihat kesalahan dalam diri sesamanya, tetapi juga merelakan diri untuk ditegur oleh sesamanya. Jika dikaitkan dengan iman, manusia tidak hanya dituntut beriman secara pribadi, tetapi juga beriman secara sosial. Artinya manusia tidak hanya mengatakan saya beriman kepada Tuhan, tetapi ketika diajak berdoa ia menjawab iman itu urusan saya dengan Tuhan. Menurutnya iman merupakan urusan pribadi, tidak perlu dengan orang lain. Inilah jawaban yang tidak bijaksana. Alasannya adalah iman sudah pasti seperti pohon yang baik dan menghasilkan buah yang baik. Iman harus ditunjukan melalui buahnya dan buah iman itu adalah tindakan nyata hidup kita sehari-hari. Seorang yang beriman harus menghasilkan buah yang bagi orang lain bukan bagi diri sendirinya. Iman tidak meninggalkan keresahan dan ketidaksukaan bagi sesamanya. Semoga melalui bacaan suci ini, kita dimampukan untuk bersikap terbuka dengan orang lain dan mewujudkan iman kita secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Tuhan memberkati kita.. amin. Sdr. Banus, OFM.  

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.