Renungan Minggu Biasa XXIX: Di Panggil untuk Melayani


Renungan Minggu Biasa XXIX, Warna Liturgi: Merah
Bacaan Pertama: Yesaya 53:10-11. Mazmur Tanggapan: Mazmur 33:4-5.18-19.20.22. Bacaan Kedua: Ibrani 4:14-16. Bacaan Injil: Markus 10:35-45

Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus.

Gerejapaskalis.or.id – Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang hikmat kebijaksanaan. Bijaksana dalam pikiran, perasaan, dan tindakan. Secara istimewa, kebijaksanaan yang ditampakkan dalam Injil dikerucutkan dalam hal jabatan atau kedudukan dalam Kerajaan Allah. Yesus bersabda, “Kamu tahu bahwa orang-orang yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tetapi janganlah demikian di antara kamu! Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Sebab Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.”

Berbicara tentang jabatan dan pelayanan, saya teringat dengan seorang mantan Minister Provinsi (Pelayan Umum) OFM-Indonesia. Kini, beliau telah menjadi Uskup. Sebagai Minister, beliau dikenal karena sederhana dan rendah hati. Untuk pertama kalinya, kami berjumpa di Postulat OFM, Yogyakarta pada medio 2010. Ini adalah pusat pendidikan para calon frater atau bruder OFM (saudara-saudra muda). Sebagai seorang postulan, saya bersukacita karena dikunjungi dan bisa bertemu dengan Minister.

Saat itu, beliau baru tiba dari bandara. Spontan, saya menawarkan diri untuk membawakan tas punggung dan kopernya. Namun, dia menolak dengan senyuman lembut, “Ngga apa-apa, makasih. Saya bisa sendiri.” Padahal, dia tampak letih. Tak ada salahnya menerima tawaran saya yang bermaksud meringankan bebannya. Pada 2017, saya berkesempatan tinggal di komunitas Provinsialat. Kali ini tinggal dalam biara yang sama. Banyak kebiasaannya yang menjadi teladan hidup yang baik. Salah satunya tentang kebersamaan. Setelah makan, dia berinisiatif mengumpulkan perlengkapan perjamuan yang kotor dan ikut mencucinya bersama para saudara muda (frater dan bruder). Sambil asyik mencuci piring dia turut cakap dan bersenda gurau dengan kami. Menurut saya, biarlah kerja tangan semacam itu cukup kami yang mengerjakannya.

Memang, dia pernah berkata demikian: “Provinsial/Pimpinan Tertinggi dalam Ordo Fransiskan disebut Minister. Minister artinya pelayan. Tujuannya, agar sang pemimpin selalu ingat bahwa tugasnya sebagai pemimpin juga di antaranya adalah melayani dengan sukacita. Minimal, tidak menyusahkan orang lain. Bukan nge-bossy (pimpinan yang tahunya perintah doang).” Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk. Demikianlah status dengan jabatan tinggi sebaiknya mendorong orang untuk semakin rendah hati dan mau melayani dengan sukacita.

Yesus membedakan antara pemahaman dunia dan pemahaman surga tentang jabatan/kedudukan. Model pemerintahan secara umum di dunia ialah memerintah dengan tangan besi. Sering kali pemimpin sebagai orang besar yang punya kuasa bisa sewenang-wenang menindas orang kecil. Rakyat merasa tertindas dan sengsara. Dalam kerajaan Surga, berlaku sebaliknya. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Gambaran yang tepat tentang figur pemimpin, pertama-tama harus mau melayani dan bukan dilayani. “Sebab Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.”

Yesus mengundang kita semua untuk menghidupi gambaran pemimpin Kerajaan Allah sejak di dunia. Setiap orang dipanggil untuk melayani, apapun status atau jabatannya. Benar bahwa tidak mudah menjadi pemimpin yang mudah melayani. Namun, baik juga bila kita diingatkan terus-menerus agar selalu melayani dalam kerendahan hati. Kerendahan hati membantu kita agar lebih tulus melayani dan menikmatinya dengan sukacita. Pelayanan, yang kita lakukan karena keterpaksaan hanya akan membawa ketidaksukaan. Akibatnya, kita tidak bisa menikmati pelayanan dan susah untuk bersukacita. Semoga kita semua mau melayani dari kerendahan hati yang tulus. Kita mohon bimbingan dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa di dalam setiap jabatan dan pelayanan yang kita emban. Tuhan Yesus memberkati.

Rm. Sulaiman Otor OFM

Renungan Minggu Biasa XXIX: Di Panggil untuk Melayani

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.