Renungan Minggu Paskah III: “Bangkit Bersama Kristus dalam Pekerjaan Sehari-hari”

Renungan Minggu Paskah III

BANGKIT BERSAMA KRISTUS
DALAM PEKERJAAN SEHARI-HARI

Bacaan I: Kis. 5:27b-32,40b-41; Bacaan II: Why. 5:11-14; Bacaan Injil: Yoh. 21:1-19

 

Salam Damai dan Kebaikan Tuhan!

Saudari dan saudara terkasih, Minggu Paska III tahun ini jatuh pada tanggal 1 Mei yang kita peringati juga sebagai Hari Buruh Internasional. Dan berkaitan dengan hari buruh, sejarah Gereja mencatat momen penting yakni Ketika tgl 1 Mei 1886 di Amerika Serikat terjadi demo buruh besar-besaran yang memakan banyak korban sehingga Paus Pius XII mempersembahkan keselamatan dan kesejahteraan jiwa para buruh pada perlindungan St Yusuf sehingga mulai tgl 1 Mei 1955 tak hanya diperingati sebagai Hari Buruh Internasional saja tetapi juga peringatan St Yusuf Pekerja. Dengan demikian menjadi jelas bahwa para buruh ada di hati Gereja sebab pekerjaan kiranya memiliki makna penting bagi Gereja, bagi persekutuan kita dengan Allah khususnya dalam dan melalui Kristus yang bangkit mulia. Bacaan Injil pada Pekan Paska III kiranya bisa memberi inspirasi bagi kita untuk merefleksikan bagaimana makna penting pekerjaan kita sehari-hari dalam paradigma iman kita dan sebaliknya juga memahami pula makna kebangkitan Kristus dalam kehidupan sehari-hari teristimewa dalam pekerjaan kita sehari-hari.

Kembali ke Rutin

Baru saja kita merayakan gegap gempitanya Paska, apalagi untuk pertama kalinya setelah masa Pandemi yang berkepanjangan kitab isa merayakan dengan lebih leluasa meskipun masih memperhatikan protocol kesehatan tetapi tentu tidaklah seketat sebelumnya. Sekarang kita masuk masa libur lebaran dan tak lama lagi kita mulai bekerja, Kembali ke rutinitas sehari-hari. Apakah kita akan kembali lagi seperti dulu dalam mencari nafkah, memikirkan keluarga, pekerjaan, karier dan sebagainya seperti Ketika kita belum merayakan Paska atau apakah kebangkitan Kristus yang telah kita rayakan masih bermakna dan membuat sedikit berbeda rutinitas kita? Jangan-jangan inilah yang terjadi pada hidup kita setiap tahunnya: kita hanya mengalami pengulangan tetapi tidak peningkatan kualitas iman yang membawa kita pada tingkat yang lebih tinggi jalan pengudusan hidup kita.

Hal yang sama mungkin dapat kita pikirkan juga pada para murid yang pengalaman imannya kita renungkan dalam perayaan ekaristi Minggu Paska III ini. Pengalaman Paska memang membuat para rasul berbesar hati. Yesus sudah bangkit dan tidak mereka ragukan lagi. Semua percaya.. lalu? Iman bukan dapur Ajaib yang bisa mengepul terus asapnya. Iman tidak secara otomatis dan mudah mengenyahkan kesulitan dan penderitaan dalam hidup kita sehari-hari. Iman tidak otomatis bisa membuat kita mudah mengatasi persoalan kantor ataupun masalah rumah tangga. Memang seminggu sekali kitab isa datang ke gereja dan menimba kesegaran rohani dari ekaristi, Mungkin seminggu sekali hati kita berkobar terbakar inspoirasi dan entusiasme kotbah yang membekali kita dengan gagasan indah yang membuat kita tergerak untuk menjadi pribadi yang ulet dan tahan banting menghadapi pelbagai tantangan, rintangan dan cobaan dalam hidup, namun kalua dibanting sungguh bisakah kita bertahan? Untuk berapa lama?

Petrus dan para rasul lainnya kiranya mengalami tantangan yang sama sehingga akhirnya Petrus memutuskan untuk kembali bekerja: “Aku mau pergi menangkap ikan” (Yoh. 21: 3). Dan ini sungguh secara harafiah menangkap ikan bukan kiasan untuk “menjala manusia” seperti apa yang menjadi panggilan Petrus.

Yesus dalam hidup sehari-hari

Penampakan paripurna Yesus dalam Injil Yohanes ini terjadi justru ketika para murid sudah kembali ke kehidupan sehari-hari dengan mencari nafkah seperti dahulu sebelum dipanggil yakni sebagai nelayan. Yesus mendatangi murid-murid-Nya dalam kehidupan yang nyata dalam kesibukan mencari nafkah hidup sehari-hari. Yesus datang Ketika mereka mengalami situasi yang sama ketika mereka belum dipanggil sebagai rasul: sudah mencari ikan lama sekali namun tak ada satupun yang tertangkap jala. Mula-mula tak ada yang menyadari kehadiran-Nya. Murid-Nya yang terkasih yang mengenalnya dan membuat para rasul lain sadar akan siapa yang hadir dan merekapun mengalami lagi kisah panggilan mereka dalam mengikuti Yesus: tidak dapat ikan, Yesus hadir dan menyuruh mereka tebar jala lalu Ketika mereka menebar jala sesuai perintah Yesus maka mereka mendapat hasil yang melimpah ruah bahkan melebihi apa yang terjadi pada kisah panggilan pertama di mana pada kisah pertama jala mereka hampir koyak tetapi sekarang jala masih utuh. Boleh disimpulkan bahwa perikop ini adalah kisah pembaharuan panggilan para murid Kristus.

Pesan kisah Injil ini adalah harapan bahwa kebangkitan Kristus mestinya ada pengaruhnya juga bagi hidup kita sehari-hari. Kebangkitan Kristus hendaknya membaharui kesadaran kita dalam perkerjaan kita sehari-hari sehingga pekerjaan selaras dengan harapan Paus Fransiskus dalam ensikliknya Gaudete et Exultate (Bersukacita dan bergembiralah) menjadi juga jalan pengudusan kita sebab Paus berkata, “Segalanya dapat di terima dan dipadukan ke dalam kehidupan kita di dunia ini, dan menjadi suatu bagian dari perjalanan kita menuju kekudusan. Kita semua dipanggil untuk menjadi kontemplatif pun di tengah kesibukan kita, dan menguduskan diri kita dengan melaksanakan misi kita dengan penuh tanggung jawab serta murah hati.” (GE no 26).

Apa yang dikatakan Paus bahwa pengudusan dalam pekerjaan kita terjadi ketika kita melaksanakan pekerjaan kita dengan penuh tanggung jawab serta murah hati, mengingatkan kita kembali akan kisah injil ini yang berbicara soal kasih karena kemurahan hati dan tanggung jawab atau juga pengendalian diri adalah wujud dari kasih seturut inspirasi Paulus dalam 1 Kor. 13: 4-8. Dalam kisah Injil tersebut Yohanes mengenal Yesus lebih dahulu daripada murid-murid lainnya karena ia adalah murid yang paling dikasihi Yesus. Petrus dipandang layak untuk meneruskan tugas Yesus dalam memelihara domba-domba karena ia mengasihi Yesus lebih daripada segalanya. Jadi kasih menjadi kuncinya dalam kita menghadirkan Yesus dalam pekerjaan dan hidup kita sehari-hari.

Semakin Mengasihi, Peduli dan Bersaksi

Seperti kita ketahui bersama ada bermacam ragam kasih yang kita kenal di dunia ini. Ada eros yakni merupakan jenis kasih yang muncul karena ada perasaan menginginkan. Eros lebih sering digunakan untuk menggambarkan cinta kasih kepada lawan jenis. Kasih “eros” sering muncul secara tiba-tiba dan tanpa direncanakan. Secara kontekstual iman kristen, eros merupakan kasih yang perlu dijaga dalam hubungan suami-istri. Eros merupakan kasih yang melibatkan jiwa dan perasaan. Selanjutnya ada storge yang merupakan kasih mesra orang tua terhadap anak dan sebaliknya.Storge merupakan hasil atau turunan dari eros. Selain itu ada pula phileo. Phileo adalah kasih yang bisa terjadi di lingkungan persaudaraan atau sahabat. Artinya, kasih ini muncul karena adanya suatu hubungan saudara atau sahabat: kasih karena saling menguntungkan, kasih karena saling menyenangkan, kasih karena saling mengagumi. Disebut juga sebagai kasih filantropi atau kasih manusiawi. Rasa kemanusiaan biasanya muncul karena kita memiliki kasih semacam ini. Dan kasih yang paling utrama adalah agape. Kasih Agape adalah kasih tak bersyarat, Cinta kasih yang tetap mengasihi walaupun tak dikasihi. Kasih Agape biasanya dipergunakan umat Kristen untuk menggambarkan kasih Allah kepada manusia. Allah mengasihi manusia karena Allah itu adalah kasih, seperti yang tertulis dalam kitab 1 Yohanes 4:8 “…sebab Allah adalah kasih

Yang menarik bahwa dalam perikop Yoh 21: 14-19 dalam Kitab Suci berbahasa Yunani keragaman kasih seperti tersebut di atas dipakai oleh Yohanes yang sayangnya pilihan kata itu tidak Nampak ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia karena semua lalu dipakai kata kasih entah itu kasih agape ataupun phileo, namun dalam Kitab Suci Bhs Yunani perbedaan itu bisa dilihat dan karenanya bisa memberi inspirasi lebih bagi kita.

Ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? Baik dalam ayat 15 dan 16 Yesus memakai kata agape sementara Petrus menjawab, “ Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Tetapi kata kasih yang dipakai bukan agape melainkan phileo. Baru dalam pertanyaan ketiga di ayat 17 Yesus mengubah kata “kasih” dari kasih agape ke kasih phileo dan Petrus menjawab dengan pilihan kata yg sama phileo! Apa makna yang bisa kita ambil dari permainan pilihan kata kasih ini? Allah memang menghendaki agar kita bisa mengasihi-Nya dengan kasih yang utama yakni kasih agape seperti halnya kasih Allah pada kita, namun kita sebagai manusia yang lemah mungkin hanya mampu mengasihi dengan kasih phileo saja. Dengan demikian kita diajak untuk meskipun penuh kelemahan dalam mengasihi sehingga belum bisa mengasihi secara agape namun Tuhan tak pernah menolak kasih kita yang belum sempurna ini. Kita seperti Petrus diajak Tuhan untuk bisa menanggapi kasih Allah yang utama yakni kasih agape dengan apapun kasih yang kita miliki. Kalau kita sungguh berjuang untuk mengasihi sesama terus menerus dengan penuh kesetiaan maka meski kita mulai dengan kasih yang “apa adanya” maka dalam persatuan dengan kasih Kristus yang utama, yang agape itu lama kelamaan kasih kita pun akan bertransformasi, berubah, berkembang, meningkat kualitasnya dari eros ke storge, dari storge ke phileo dan dari phileo ke agape.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa tagline Arah Dasar KAJ: semakin mengasihi, peduli dan menjadi saksi bisa dimaknai pula bahwa semakin mengasihi bukan hanya berarti kasihnya semakin bertambah banyak atau bertambah besar saja tetapi semakin mengasihi bermakna juga semakin tinggi kualitas kasih yang kita wujudnyatakan pada Tuhan dan sesama.

Tuhan Memberkati! (Rm. Thomas Ferry Suharto, OFM)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.