Mencobai Tuhan

Gerejapaskalis.org – Suatu ketika seorang prodiakon bertemu dengan Romo Opa di beranda pastoran.

“Halo… Romo Opa….,” sapa sang Prodiakon hangat. “Oi… Apa kau ….,” balas Romo Opa dengan wajah sumringah.

“Hehe… Pa kabar, Mo?” “Yaaa seperti yang kamu lihat,” kata Romo Opa.

“Waaah jempol deh buat, Romo Opa. Meski tua, tapi sehat dan selalu semangat. Umur berapa sih, Romo Opa? Ada 80 tahun?””

“Masih muda kita, tujuh belas tahun,”

“Tujuh belas? Tujuh satu kali, Mo?” tanya Prodiakon itu keheranan.

Hehehehe…… Romo Opa terkekeh dengan gaya khasnya.

“Tapi Romo Opa hebat loh, sudah kepala tujuh masih top,” kata Prodiakon itu.

“Yaaa begitulah. Dari mana kau?”

“Habis antar komuni untuk Pak Bertus, Mo” jawab Prodiakon itu.

“Ooh… Pak Berthus mana?”

“Itu yang aktivis pemuda tinggal di wilayah 2. Dia sakit struk, Mo. Sudah tak bisa bangun lagi. Tiduran saja di kasur.”

“Umur berapa Pak Bertus?”

“Masih muda, Mo. 38 tahun.”

“Mmmm…. Rumahnya yang dekat Minimart itu, bukan?”

“Nah betul, Mo. Dekat minimart. Sampingnya ada gang, nah masuk situ rumahnya Pak Berthus. Orangnya baik, supel, ramah suka bantuin orang. Kasihan sekarang, Mo. Sejak Pak Berthus sakit, keluarganya langsung ngedrop ekonominya. Perlu dibantu.”

“Ya pastilah, harus dibantu kalo sudah begitu. Kerja apa dia?”

“Travel, Mo. Warga lingkungan sudah kolekte.”

“Ya tapi mau berapa kali kolekte? Dan berapa banyak kolektenya?

“Waaah ndak tau itu, Mo.”

“Itu yang harus jadi perhatian kita.”

“Maksudnya, Mo?
Jwab Romo Opa, “Tuhan sudah kasih kita kesehatan, ya, harusnya disyukuri dan dipelihara. Jangan sampai masih muda sudah sakit dan menyusahkan orang lainya.”

“Maksudnya gimana, Mo? Umat ga boleh bantu?”

“Hehehe…. kamu itu mudah sekali menyimpulkan. Kalo sudah begitu ya umat dan Gereja harus terlibat, tidak bisa diam. Maksud saya, kita sebagai warga Gereja Katolik harus sadar bahwa syukur atas karunia kesehatan tidak hanya dengan doa saja, tetapi juga membuktikan diri dengan memelihara kesehatan.”

“Mo Opa…. Dalam doa Bapa Kami kan ada kalimat “Janganlah masukkan kami dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.” Bukankah itu juga berarti kita meminta rahmat perlindungan tubuh dari berbagai penyakit?””

“Ya itu betul…. Tetapi kan Allah menciptakan manusia dengan akal budi. Artinya, manusia harus menggunakan akal budinya untuk bertindak. Ya kalo hanya diucapkan saja dan mengharapkan keajaiban Allah tanpa berusaha, sama saja kita yang “mencobai Allah”.

“Kita berdoa minta dijauhkan dari pencobaan, tapi disisi lain kita justru mencobai Allah. Doa minta selalu sehat tapi kita tidak mau jaga kesehatan. Makanan apa saja dimakan.”

“Berat ini, Mo…..”

“Tidak beratlah, kita hanya perlu memelihara kesehatan rutin. Tidak susah kok, makan, tidur, olahraga bekerja cukup, sudah to?”

“Yaaa teorinya sih gampang, Mo, prakteknya kan tidak seperti itu.”

“Ya itu yang membuat jadi sulit, karena kita mencobai Allah dengan banyak alasan dan keinginan jasmani. Sekali-Kali gapapa makan atau minum ini dan itu. Ya sekali sekali kalau berulang kali jadi banyak kali. Bukankah itu namanya mencobai Allah yang sudah memberi rahmat tubuh yang sehat?”

“Hehehe…. Ternyata kita tidak sadar sering mencobai Allah, ya Mo?”

“Ya begitulah.”

“Terima kasih nasihatnya, Mo. Saya pamit mau pulang.”

Romo Opa: Ya
….

Wah ribet ngobrol sama Romo Opa, hal sepele jadi rumit. Perkara kesehatan saja sampai bawa-bawa Allah. Eeh… Itu kok warung sate rame banget, sebelahnya nasi padang, sebelahnya lagi ayam goreng sama kopi susu …. ada es buble lagi… waah ini, perlu dicoba. Ayoo pilih mana?

Bapaknya Ganesha

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.