Salah Sangka di Minggu Palma, 2 April 2023

Salah Sangka di Minggu Palma

Misa minggu Palma di Gereja Santo Paskalis Cempaka Putih 2/4/2023 pukul sepuluh pagi berlangsung meriah.

Umat bersemangat mengikuti perayaan minggu palma. Halaman parkir penuh, tidak mampu menampung kendaraan umat baik roda dua maupun roda empat.  Sebagian besar kendaraan roda empat diparkir di tepi jalan maupun di komplek ruko sebelah gereja.

Umat yang lupa membawa daun palma meski sepekan sebelumnya diumumkan, nekat memotong daun palma di halaman gereja. Cuaca yang panas terik tidak menyurutkan niat, umat berlindung di serambi halaman dan di serambi gereja.

Umat menunggu diluar dan tidak masuk ke dalam gereja sesuai arahan petugas tatib agar umat mengikuti perayaan dan diajak turut mengenangkan kembali peristiwa Yesus masuk kota Yerusalem. Pemberkatan daun palma dan perarakan menjadi bagian dari liturgi minggu palma, sehingga umat diajak untuk terlibat dalam perayaan tersebut.

Romo Ferry memberkati daun palma yang sudah disiapkan di teras samping aula dekat toko buku. Dalam homili singkat, Romo Ferry mengajak umat untuk menyambut Yesus bukan hanya secara jasmani tetapi menyambut- Nya dengan hati dan mentahtakan-Nya sebagai raja di hati agar hidup kita selalu dirajai oleh-Nya sehingga kita boleh memetik buah keselamatan.

Setelah memberkati daun palma yang sudah disiapkan, prodiakon berkeliling memerciki daun palma yang dibawa umat sementara umat melambai-lambaikan daun palma diatas kepala.

Lagu Yerusalem, Lihatlah Rajamu yang dinyanyikan paduan suara dari Ikatan Keluarga Sumatera Utara (IKSU) mengiringi perarakan imam masuk ke dalam gereja. Umat berebut masuk berlomba mencari tempat duduk di dalam gereja. Sebagian uamt yang tidak mendapat tempat di dalam gereja diarahkan ke aula. Aula atas dan bawah Gedung Karya Pastoral (GKP) dipenuhi umat yang tidak mendapat tempat di dalam gereja.Panitia telah menyiapkan altar serta proyektor untuk membantu umat mengikuti perayaan.

Homili Romo Ferry menekankan dua hal. Pertama terkait kendaraan yang digunakan Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem yaitu keledai dan bukan kuda. Kuda pada waktu itu adalah kendaraan untuk raja-raja atau kesatria dan bangsawan. Oleh karena itu rakyat jelata tidak akan pernah bisa naik kuda.

Yesus tidak mau naik kuda karena melambangkan raja yang maha kuasa raja yang perkasa seperti raja-raja dunia. Yesus dalam injil Matius dikatakan naik keledai.  Yesus sengaja memilih naik keledai betina keledai yang biasa mengangkut beban karena Yesus mau menunjukkan dirinya sebagai raja yang mau melayani, raja yang lemah lembut, raja yang mau memikul beban umatnya, beban dosa kita semua.

Penekanan kedua adalah salah sangka. Romo Ferry mengatkan bahwa orang yahudi itu sama dengan kita pada saat ini sering salah sangka. Orang yahudi Ketika melihat Yesus berseru:  Eli Eli lama sabakhtani” menyangka Yesus memanggil Elia.

Seruan Yesus “Eli Eli lama sabakhtani yang artinya  Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Mat27:46) bukan berarti Yesus memanggil Nabi Elia juga bukan seruan galau putus asa, tetapi Yesus mendaraskan Mazmur 22.

Awalan Mazmur 22 adalah seruan kepada Allah seperti yang diucapkan Yesus diatas kayu salib. Mazmur 22 itu diakhiri dengan Allah yang akan berbuat dan bertindak. Dia tidak akan pernah mengabaikan orang yang berteriak dan berseru kepada-Nya.

Seperti misa-misa yang lain, Romo Ferry selalu berpantun sebelum memberikan berkat penutup.

Jalan-jalan ke Tanah Toraja

Jangan lupa beli De Factory

Bapak Ibu mari kita sambut sang Kristus Raja

dan mentahtakan-Nya dalam hati sanubari

***masaji

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *