Renungan – Gereja St. Paskalis https://gerejapaskalis.or.id Paroki Cempaka Putih Jakarta Fri, 18 Aug 2023 11:05:25 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.1 Berani Memberi Tempat Kepada Roh Kudus Untuk Memilih Yang Baik Dan Yang Benar https://gerejapaskalis.or.id/renungan/berani-memberi-tempat-kepada-roh-kudus-untuk-memilih-yang-baik-dan-yang-benar/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/berani-memberi-tempat-kepada-roh-kudus-untuk-memilih-yang-baik-dan-yang-benar/#respond Fri, 18 Aug 2023 10:18:34 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=6135

Homili Bapa Uskup Kardinal Ignatius Suharyo pada Misa Krisma Minggu 13 Agustus 2023

Berani Memberi Tempat Kepada Roh Kudus Untuk Memilih Yang Baik Dan Yang Benar

Para calon penerima sakramen Krisma yang berbahagia. Bersama-sama para petugas liturgi dan dengan orang tua, keluarga para pendamping dan semua yang hadir di dalam perayaan ekaristi ini pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat kepada para bapak dan ibu dari saudara dan anak-anak sekalian yang telah mengambil keputusan untuk menerima sakramen Krisma.

Kita semua tahu menerima sakramen Krisma tidak sekedar karena usianya sudah cukup menerima sakramen Krisma adalah suatu keputusan iman. Keputusan untuk membiarkan Roh Kudus memberikan kesempatan, ruang dan waktu bagi Roh Kudus dalam hidup kita agar setiap keputusan yang kita ambil tidak sekedar kita pertimbangkan dengan pertimbangan-pertimbangan sendiri. Tentu tidak mudah.

Bagaimana caranya membiarkan Roh Kudus menentukan atau ikut menentukan keputusan-keputusan kita?
Sebetulnya indikasinya jelas mungkin roh kudusnya tidak langsung bisa kita rasakan kehadirannya, tetapi pengaruhnya dapat kita lihat dalam pilihan-pilihan kita ketika kita membiarkan Roh Kudus berperan di dalam hidup kita. Lalu Setiap kali kita mengambil keputusan kita ambil keputusan itu tidak sekedar berdasarkan gampang atau sulit, menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Kalau pertimbangan kita hanya itu, itulah tanda bahwa kita belum memberi kesempatan kepada roh kudus untuk menentukan mendampingi hidup kita. Kalau kita sungguh-sungguh memberikan kesempatan dan ruang kepada roh kudus untuk menentukan mempengaruhi pilihan kita yang kita pilih pastilah terutama yang baik dan yang benar, bukan sekedar yang gampang dan yang menyenangkan.

Itu semua dapat kita lihat baik di dalam keputusan-keputusan yang besar maupun dalam keputusan-keputusan yang sederhana.

Pada hari ini bersama-sama dengan seluruh gereja kita merayakan hari raya Bunda Maria diangkat ke surga kita semua tahu Bunda Maria adalah teladan pribadi yang sepenuhnya membiarkan Roh Kudus menuntun hidupnya. Ketika Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel dia ketakutan, maka malaikat mengatakan jangan takut.

Dalam situasi seperti itu sebetulnya Maria dengan mudah tidak memilih untuk menerima pesan dari Gabriel itu. Hidupnya sudah nyaman dengan irama yang menyenangkan, sudah memilih yang biasa yang menyenangkan yang gampang itu.

Tetapi karena Maria membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh Kudus, ia tidak memilih yang gampang dia memilih yang baik, memilih yang benar. Sehingga meskipun cemas meskipun takut, ia mengatakan Jadilah kehendakMu pada diriku memilih yang baik dan yang benar.

Dan pengaruhnya apa? Akibatnya apa? akibatnya jelas karena pilihan Bunda Maria itu kita dapat mengalami penebusan keselamatan. Kabar gembira dari Yesus itulah yang dikatakan di dalam surat yang tadi kita dengarkan sebagai bacaan yang pertama. Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan roh untuk kepentingan bersama. Maria tidak memilih demi kepentingannya sendiri tetapi ia memilih demi kepentingan umat manusia, meskipun tidak gampang.

Beberapa tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang bapak dan bapak itu mengatakan kepada saya begini, “Romo, Saya baru saja diberi pelajaran oleh anak saya” Keluarga itu biasa mengikuti ekaristi manusia setiap hari Sabtu sore, dan pada hari itu hujan sangat lebat sampai jam ketika biasanya mereka berangkat bersama-sama dengan keluarga. Bapak itu masih di tempat kerja lalu anaknya seorang seorang Putra altar menelpon “Bapak pulang sudah waktunya berangkat ke gereja, saya bertugas untuk melayani altar.” Bapak itu menjawab anaknya begini “Hujan begini lebat ke gerejanya besok.” Anaknya mengatakan “Tetapi saya tugas.”

“Kan kalau hujan begini di gereja orangnya sedikit.” Anaknya menjawab lagi “Justru karena sedikit itu Mari kita pergi ke gereja supaya tidak berkurang lagi.” Akhirnya bapak itu mengalah pulang dan bersama-sama pergi ke gereja sehingga anaknya itu dapat melayani altar melayani ekaristi sebagai Putra altar.

Pilihan yang sederhana, kata-kata yang sederhana, tetapi dibalik kata-kata yang sederhana itu dia berpikir untuk kepentingan bersama. Kepentingan umat yang hadir di gereja supaya imamnya dapat dibantu dengan peranannya sebagai Putra altar. Pilihan yang baik, pilihan yang benar bukan sekedar gampang bukan sekedar menyenangkan. Tanda bahwa Roh Kudus diberi tempat di dalam dirinya untuk menentukan pilihan.

Mengakhiri renungan ini saya ingin menceritakan satu dongeng yang dilandaskan pada salah satu batu relief yang dapat kita temukan di Candi Mendut di Jawa Tengah, untuk menunjukkan bahwa ketika kita tidak berpikir untuk kepentingan umum akan terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan. Itulah sebabnya kalau melihat di sana ada gambar besar (standing Banner) Keuskupan Agung Jakarta, kesejahteraan bersama.

Di semua gereja di Keuskupan Agung Jakarta ada tulisan seperti itu. Ajakan agar kita umat di Keuskupan Agung Jakarta membiarkan diri kita dipimpin oleh Roh Kudus sehingga tidak sekedar memilih yang gampang dan yang menyenangkan tetapi selalu berpedoman itu.

Setiap pilihan kita mesti mempertimbangkan kesejahteraan bersama. Itu kalau kita pergi ke Candi Mendut di Jawa Tengah ada satu batu relief yang gambarnya itu aneh seekor burung berkepala dua. Yang membuat relief itu mempunyai dongeng, di suatu zaman ada seekor burung yang berkepala dua. Setiap kali burung itu mencari makan, kepala yang di atas selalu mendapatkan makanan-makanan yang enak sementara kepala yang dibawa hanya sisa-sisa dan kadang-kadang tidak ada sisanya.

Terus begitu dalam waktu yang lama sampai pada suatu saat kepala yang di bawah itu berkata begini kepada kepala yang di atas, “Kawan tolong kalau mendapat makanan, saya jangan hanya diberi sisa-sisa saja tetapi juga yang enak.” kepala yang di atas menjawab begini “Toh kita semua sama satu tubuh, yang saya makan ya untuk kita”

Jawabannya tidak memuaskan, tetapi kepala yang dibawah sabar. Dan begitu berulang-ulang sampai suatu saat kepala yang dibawah itu marah karena tidak pernah diperhatikan. Maka ketika mereka mencari makan, kepala yang dibawah itu sengaja makan racun. Matilah burung yang aneh itu.

Nenek moyang kita menyampaikan pesan lewat dongeng tadi. Ketika kita tidak berpikir mengenai kepentingan bersama, sesuatu yang seperti itu bisa terjadi. Dan sebagai umat Keuskupan Agung Jakarta para calon penerima Krisma yang terkasih, kepada kita diyakinkan melalui surat rasul Paulus Yang tadi kita dengarkan sebagai bacaan kedua begini

Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan roh untuk kepentingan bersama. Marilah kita saling mendoakan agar kita terus berusaha berani untuk memberikan tempat waktu dan kesempatan kepada roh kudus di dalam doa, agar setiap pilihan kita sungguh-sungguh menjadi pilihan yang baik dan yang benar.

Dan itu membutuhkan keberanian, Itulah sebabnya kami para imam yang memimpin ibadah ini mengenakan kasula merah, seharusnya hijau, tetapi pada hari ini untuk Krisma dikenakan pakaian merah untuk mengungkapkan harapan kita agar kita terus berani memberi tempat kepada roh kudus dan memilih yang baik dan yang benar.
Tuhan memberkati. *** (masaji)

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/berani-memberi-tempat-kepada-roh-kudus-untuk-memilih-yang-baik-dan-yang-benar/feed/ 0
Renungan Pembukaan Bulan Maria 2023 https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-pembukaan-bulan-maria-2023/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-pembukaan-bulan-maria-2023/#respond Tue, 02 May 2023 15:37:15 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=5505 Kesaksian Yohanes Paulus II dalam Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae

Paus Yohanes Paulus II: “Saya sendiri sudah sering mendorong pendarasan Rosario. Sejak tahun-tahun mudaku, doa Rosario memainkan peran penting dalam kehidupan rohaniku. Doa Rosario telah menemani saya pada saat suka dan pada saat duka. Pada doa rosariolah saya selalu mendapat peneguhan. Saya terus terang mengakui bahwa Doa kesayangan saya adalah Rosario. Suatu doa yang mengagumkan. Mengagumkan karena kesederhanaannya dan kedalamannya. Betapa banyak rahmat yang saya terima dari Perawan Maria lewat doa rosario.”

Peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario menggambarkan peristiwa-peristiwa utama dalam kehidupan Yesus Kristus. Peristiwa-peristiwa itu membentuk untaian lengkap; gembira, sedih, dan mulia. Dengan demikian, peristiwa-peristiwa itu menempatkan kita  dalam persekutuan dengan hidup Yesus Kristus lewat Bunda-Nya, Maria. Pada saat yang sama, sambil mendaraskan Salam Maria, hati kita dapat merangkum semua peristiwa yang terjadi dalam hidup perorangan, keluarga, bangsa, Gereja, dan seluruh umat manusia. Doa Rosario merangkum keprihatinan pribadi kita dan keprihatianan sesama kita, khususnya mereka yang amat dekat dengan kita, yang paling kita kasihi. Doa Rosario yang sederhana ini, mencerminkan irama hidup manusia.

Maria, sepanjang hidupnya, hanya tertuju pada Putranya, Yesus Kristus. Ia selalu setia pada Putranya. Karena itu, kesetiaan dan tatapan yang selalu tertuju kepada Yesus, menuntun Maria untuk merenungkan aneka peristiwa hidup di samping Putranya. Dengan mendoakan doa Rosario, kita menjalin kontak dengan Maria yang terus menerus ingat akan sang Putra dan menatap wajah-Nya dalam kontemplasi. Somoga, doa Rosario yang selalu kita daraskan, membawa kita juga untuk selalu ingat dan menatap wajah Kristus dalam setiap langkah hidup kita.

Yohanes Paulus II menganjurkan doa Rosario sebagai doa untuk memohon damai.  Dewasa ini, telah banyak terjadi serangan-serangan yang mengerikan antarnegara, suku, ras, dan agama. Banyak manusia yang tumbang, menjadi korban dan alam menjadi porak-poranda. Di banyak belahan dunia, setiap hari dipertontonkan pertumpahan darah dan kekerasan. Lewat doa Rosario, kita menyelam dalam misteri Kristus yang adalah damai kita, karena Ia telah mempersatukan semua orang. Kristus mengajarkan perdamaian dan persatuan semua orang, bahkan kepada mereka yang menjadi musuh-musuhNya.

Doa Rosario juga sebagai doa untuk mohon perdamaian dan keutuhan alam ciptaan. Saat ini, kita mengalami banyak krisis sebagai akibat dari hancurnya dan hilangnya alam ciptaan yang diakibatkan oleh manusia sendiri, hanya demi keuntungan dan kenikmatan semata. Dalam Doa Rosario, kita merenungkan kembali rahmat keselamatan Allah yang hadir dalam Yesus Kristus untuk semua ciptaan, bukan hanya untuk manusia.

Renungan

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita sekali lagi diperkenankan oleh Tuhan untuk bersama dengan Gereja memasuki bulan Maria. Maria diberi penghormatan khusus dalam Gereja karena ia memiliki peran penting dalam karya keselamatan Allah manusia. Maria juga merupakan model iman bagi kita. Karena itu, patutlah kita menghormati dan meneladani Maria. Dalam banyak kesaksian, dalam Kitab Suci dan berbagai pengalaman iman, Maria hadir sebagai penolong dalam kesusahan. Maria, sebagaimana ia membantu tuan pesta di Kana yang kekurangan anggur, juga menolong orang-orang yang datang kepadanya. Karena itu, kita diajak untuk berani datang kepada Maria dan memohonkan pertolongannya.

Pada pembukaan bulan Maria ini, kita mendengar kisah Maria mengunjungi Elisabet. Maria, sebagaimana kita, juga mencintai dan mengingat akan saudaranya, yaitu Elisabet. Karena itu, Ia meluangkan waktunya untuk mengunjungi Elisabet. Hal yang menarik dan luar biasa adalah reaksi Elisabet ketika berjumpa Maria di rumahnya. Ia dipenuhi oleh Roh Kudus, dan bahkan, bayi yang ada dalam kandungannya melonjak kegirangan. Apa yang membuat Elisabet merasakan hal itu? Karena Ia didatangi oleh Ibu Tuhan sendiri, berjumpa dengan sosok yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Perjumpaan Maria dan Elisabet mengajak kita untuk, (1) Mengunjungi saudara-saudari kita yang membutuhkan kita. Kita diajak untuk meninggalkan zona nyaman untuk menjumpai saudara-saudari kita, khususnya mereka yang membutuhkan. Perjumpaan tidak harus berwujud melalui tatap muka atau bertemu secara fisik, tetapi juga perjumpaan melalui doa Rosario. Perjumpaan dalam dan melalui doa, artinya kita mendoakan saudara-saudara kita, khususnya mereka yang membutuhkan. (2) hendaknya kita menjadi pribadi yang membawa kegembiraan bagi banyak orang, seperti Maria. Ketika orang berjumpa dengan kita, mereka bisa melihat dan merasakan kegirangan dalam hati mereka, mereka merasa nyaman dan tidak mencurigakan. (3) dalam perjumpaan, kita tidak sedang menunjukkan diri kita semata, melainkan juga Roh yang berdiam dalam diri kita. Roh itu, keluar dari diri kita, menghembus dan menembusi orang-orang yang kita jumpai. Agar dengan demikian, mereka merasakan Roh meliputi diri mereka, seperti Elisabet yang dipenuhi Roh ketika berjumpa dengan Maria.

***(Frater Theofanus Aristo, OFM)

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-pembukaan-bulan-maria-2023/feed/ 0
Renungan Hari Minggu Biasa XXIII: “Belajar Kebijaksanaan Hidup” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xxiii-belajar-kebijaksanaan-hidup/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xxiii-belajar-kebijaksanaan-hidup/#respond Sun, 04 Sep 2022 05:00:41 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=4105 Renungan Hari Minggu Biasa XXIII

Belajar Kebijaksanaan Hidup

Bacaan I: Keb. 9:13-18, Bacaan II: Flm. 9b-10,12-17, Bacaan Injil: Luk. 14:25-33

Hari ini bersama Gereja sejagat kita memasuki HM Biasa XXIII. Gereja Indonesia, secara khusus, menetapkan hari ini sebagai HM Kitab Suci Nasional dan selama bulan September ini dijadikan sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tema BKSN 2022 ini adalah “Allah Sumber Harapan Hidup Baru”.

Dengan mengkhususkan bulan September sebagai BKSN, kita disadarkan untuk mencintai KS, membaca, merenungkan, dan menghayatinya dalam hidup karena kita semua tahu bahwa KS adalah pedoman hidup bagi kita sebagai orang beriman. Di dalam Kitab Suci, Allah menyampaikan segala hal yang mesti kita lakukan untuk memperoleh keselamatan. Atau dapat saya bahasakan bahwa di dalam Kitab Suci, kita menemukan kebijaksanaan hidup yang menjadi pedoman bagi hidup kita. Sebab, tidak bisa kita mungkiri bahwa kebijaksanaan itu diperlukan untuk hidup kita sebagai manusia, terutama dalam mengambil keputusan. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita akan dimampukan untuk memilah-milah antara yang perlu dan tidak perlu, antara yang penting dan tidak penting, antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah; teristimewa untuk melihat mana kehendak Allah dan mana kehendak diri sendiri. Kita akan mampu memiliki kebijaksanaan kalau melibatkan Kebijaksanaan Allah dalam seluruh gerak hidup kita.

Hal ini jelas sekali diuraikan kepada kita dalam bacaan pertama. Kitab Kebijaksanaan mengajari kita bagaimana harus bersikap di hadapan Tuhan. Tuhan adalah sumber kebijaksanaan. Maka kita yakini bahwa IA menunjukkan kepada kita apa yang sesungguhnya menjadi rencana dan kehendak-Nya terhadap diri kita masing-masing (bdk. Keb. 9:13-18). Dengan demikian di hadapan Tuhan kita dapat memahami makna hidup kita yang sesungguhnya. Terkadang pula dalam hidup sehari-hari kita dihadapkan pada berbagai macam persoalan yang tidak dapat kita duga bahkan sulit atau tidak kita mengerti. Persis seperti apa yang dikatakan penulis Kitab Kebijaksanaan, “Siapa gerangan sampai mengenal kehendakMu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh KudusMu dari atas tidak Kauutus?” (Keb.9:17).

Kita hanya mungkin bisa mengenal kehendak Tuhan jika diri kita dikuasai oleh Roh Tuhan sendiri. Dengan Kebijaksanaan yang berasal dari Allah, kita akan mampu memandang setiap persoalan yang kita hadapi bukan sebagai kutukan, nasib, dll tetapi melihat setiap persoalan yang kita jumpai sebagai bagian dari hidup yang membuat kita semakin matang menjalani kehidupan kita. Dengan Kebijaksanaan yang berasal dari Allah, kita pun akan mampu memandang sesama itu sebagai saudara bukan sebagai bawahan, lawan, saingan ataupun musuh. Dengan Kebijaksanaan dari Allah itu pula membuat kita memiliki kerelaan dan keikhlasan hati bukan keterpaksaan, sebagaimana kita dengarkan dalam bacaan kedua tadi (bdk. Fil. 9b-10.12-17).

Maka, saya ingin mengatakan bahwa membaca dan merenungkan Kitab Suci sebagai Sabda Allah yang tertulis, banyak mengajarkan kepada kita bagaimana bertindak dengan bijaksana dalam hidup kita setiap saat. Di sanalah kita banyak belajar mengenai kebijaksanaan hidup dengan bersumber pada Kebijaksanaan Allah.

Orang yang dengan setia melakukan kehendak Allah dan segala kebijaksanaanNya dalam hidupnya disebut murid Tuhan. Hal ini kita dengarkan dalam bacaan Injil tadi. Untuk dapat melaksanakan kehendak Allah, maka kita mesti; pertama, fokus kepada Allah (bdk, Luk. 14:26-27). Kecintaan terhadap keluarga memang sangat penting. Namun, kecintaan terhadap Tuhan, yang memberi kita keluarga, adalah yang terutama. Sebab, hidup bukan lagi menjadi milik kita seutuhnya tetapi untuk memuliakan Allah. Kedua, memiliki perencanaan (bdk, Luk.14:28-30). Seorang murid harus hidup dengan perencanaan. Seperti pembuat menara, ia harus merancang anggaran biaya sampai menara itu selesai dibangun. Kita harus hidup dengan rencana yang matang, bukan emosi sesaat. Ketiga, memiliki pertimbangan matang (bdk, Luk.14:31-32). Artinya, kita perlu pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi diri dan sekeliling kita. Seumpama seorang raja, ia tahu kapan harus berdamai dan kapan harus menyerang. Ia mengenali kekuatan dan kelemahan dirinya. Keempat, memiliki manfaat bagi sesama (bdk, Luk.14:34-35), bahwa sebagai murid Kristus hidup kita harus bermanfaat bagi sesama. Seperti garam berfungsi memberikan rasa pada makanan dan menjadi pengawet dalam kebusukan. Jika garam tak ada fungsinya, ia tak akan terpakai lagi. Jika seorang murid tidak berpengaruh bagi sesamanya, ia telah kehilangan fungsinya (bdk. Mat.5:13).

Lebih dari itu, untuk dapat melaksanakan kehendak Allah, kita harus terlebih dahulu berani memikul salib hidup kita, mati terhadap segala bentuk keinginan diri sendiri, mampu melepaskan diri dari segala bentuk kelekatan, mampu menyangkal diri dan hanya hidup di dalam bimbingan Allah. Paus Fransiskus mengatakan bahwa “Hidup kita adalah sebuah perjalanan. Ketika perjalanan kita tanpa disertai salib… dan ketika kita mengaku sebagai murid Kristus namun menghindari salib, kita bukanlah murid-murid Kristus, Tuhan“.

Bila kita menyadari hal ini maka tidak ada sedikitpun cela bagi kita untuk melihat setiap persoalan yang kita jumpai sebagai bentuk ketidakpedulian atau kutukan dari Allah terhadap hidup kita. Tapi sebaliknya! Kita akan semakin bijaksana menjalani kehidupan kita dengan penuh keyakinan bahwa apa pun bentuk kehidupan yang saya jalani dan saya hidupi tidak lepas dari campur tangan Tuhan sendiri. Tugas saya adalah menyediakan diri untuk senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan. Sebab, orang yang melaksanakan kehendak Allah, tidak bertindak secara serampangan melainkan mawas diri, penuh refleksi dan iman (bdk. Lukas 14:25-33). Tuhan memberkati! AMIN* [Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM]

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xxiii-belajar-kebijaksanaan-hidup/feed/ 0
Renungan Hari Minggu “Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-hari-raya-santa-perawan-maria-diangkat-ke-surga/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-hari-raya-santa-perawan-maria-diangkat-ke-surga/#respond Mon, 15 Aug 2022 07:27:12 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=4022 Renungan Hari Minggu

“Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga”

Bacaan I: Why. 11:19a;12:1-6a.10ab Bacaan II: 1Kor. 15:20-26 Bacaan Injil: Luk.1:39-56

Belajar Dari MAGNIFICAT Maria:

Bersyukur, Percaya, dan Menjadi Berkat Bagi Sesama

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga, berdasarkan Tradisi Suci yang sudah diimani oleh Gereja sejak lama, namun baru ditetapkan menjadi Dogma melalui pengajaran Bapa Paus Pius XII pada 1 November 1950, yang berjudul Munificentimtissimus Deus. Pada saat Paus Pius XII mengumumkan Dogma ini, ia menggunakan wewenangnya sebagai Magisterium, dan ia bertindak atas nama Kristus untuk mengajar umatnya. Dikatakan bahwa “…dengan otoritas dari Tuhan kita Yesus Kristus, dari Rasul Petrus dan Paulus yang Terberkati, dan oleh otoritas kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikannya sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surgawi” (MD 44). Doktrin ini berhubungan dengan Dogma Immaculate Conception/Maria dikandung tanpa noda, yang diajarkan oleh Bapa Paus Pius IX, 8 Desember 1854.

Dalam perayaan ini kita akan merenungkan makna Maria diangkat ke surga yang sangat relevan, penuh arti bagi hidup kita. Kenaikan Bunda Maria ke surga merupakan sumber harapan dan kegembiraan. Hidup kita sebagai orang beriman merupakan cakrawala kebahagiaan abadi. Kita umat Katolik percaya, Maria diangkat ke surga, karena Maria dikandung tanpa noda. Maria dibebaskan oleh Allah dari dosa, maka ia tidak mengalami konsekuensi dosa dan kematian yang akan kita alami. Kita percaya, berkat ketaatan dan kesetiaannya Bunda Maria pada akhir hidupnya di dunia ini diangkat dengan tubuh dan jiwa-nya kepada kemuliaan di surga.

Dalam Injil Lukas kita mendengar ungkapan kegembiraan luar biasa yang dialami Maria dan Elisabet. Kedua wanita itu berbagi rasa iman, harapan, dan kebahagiaan. Elisabet perempuan tua, yang bersuami namun mandul, Maria perempuan muda yang bertunangan namun mengandung. Terungkap dalam kisah itu betapa agung kuasa Allah untuk mengadakan dan memelihara kehidupan!

Yang menarik adalah sukacita dan kebahagiaan yang diterima dan dialami Maria, tidak membuat dirinya bangga apalagi menyombongkan diri sebagai Wanita terbaik yang dipilih oleh Tuhan. Maria dengan penuh kerendahan hati selain bersyukur dan menyadari panggilannya, tetapi juga tergerak untuk membagikan sukacita dan kebahagiaan itu kepada orang lain, Elisabet-Saudarinya. Kunjungan itu melahirkan pujian mendalam dari Elisabet dan pertanyaan penuh makna, “Diberkatilah engkau di antara semua Wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai ke telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Sungguh, berbahagialah dia yang telah percaya, sebab Firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana” (Luk.1:42-45).

Ada tiga makna dari ungkapan sambutan Elisabet, yaitu pertama, Maria disebut sebagai wanita yang diberkati karena terpuji di antara segala wanita. Dialah satu-satunya wanita yang dipilih untuk mengandung Anak Allah, atau yang Kudus dari Allah. Kedua, diberkatilah juga buah rahimnya, yaitu Yesus. Ketiga, Maria disebut bahagia oleh Elisabet karena ia telah percaya akan kebenaran sabda Tuhan.

Tanggapan Maria terungkap jelas dalam lantunan kidungnya yang disebut Magnificat. Maria menyadari bahwa ia dipanggil untuk terlibat dalam karya penyelamatan Allah. Maria menanggapi kebesaran dan perbuatan besar dari Allah dengan penuh sukacita sehingga ia melantumkan kidung sebagaimana kita dengarkan dalam bacaan Injil tadi. Dalam Magnificat itu, Maria meluapkan sukacita batinnya karena mengandung Putera Allah dalam rahimnya. Putera Allah itulah yang menggelorakan semangat iman yang besar padanya. Putera Allah itu pula yang menggerakkan Maria untuk membagikan kedamaian dan kegembiraan iman itu kepada Elisabeth, saudarinya.

Selain aspek ketaatan, kesetiaan, dan kesanggupan Maria, di dalam magnificat itu, ada pula dua hal lain yang dinyatakan kepada kita, yaitu pertama, sikap syukur. Maria bersyukur karena Allah memperhatikan dirinya yang hina dina. Ungkapan syukur itu disampaikan dengan penuh kerendahan hati: “jiwaku memuliakan Tuhan” (Luk.1:46). Maria tidak memegahkan diri karena Allah memilih dia, sebab alasan keterpilihan dirinya itu ada pada Allah, dan bukan karena kehebatan dirinya.  Panggilan yang diterimanya bukanlah sebuah prestasi yang mesti ia bangga-banggakan, tetapi suatu pemberian, satu karunia, dan satu rahmat dari Allah bagi dirinya.

Kedua, sikap percaya. Hal ini terungkap dalam fiatnya yang disampaikannya kepada Tuhan melalui malaikat Gabriel; “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk.1:38). Dia pasrah pada kehendak Allah. Bagi Maria, iman pada tempat pertama berarti pasrah, tunduk, taat pada kehendak dan rencana Allah. Dia membuka dirinya seutuhnya untuk Tuhan dan karyaNya. Seluruh hidupnya merupakan ziarah panjang mematuhi kehendak Tuhan dan itu berlangsung dalam suka dan duka, dalam manis dan pahit, dalam senang dan susah.

Apa yang bisa kita pelajari? Pertama, kesadaran baru tentang kehadiran Allah di tengah-tengah kita. Dia hadir dalam diri kita sekaligus mendiami diri kita sebagai manusia, sebagaimana itu terjadi dalam diri Maria. Ia mendiami kita semua yang percaya kepadaNya. Dengan demikian, kita sebenarnya mengalami peningkatan harga diri sebagai anak-anak Allah. Pertanyaaannya untuk kita adalah apakah kita merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita atau tidak? Apakah kita sungguh membuka diri kepada Tuhan, seperti Maria, agar Ia dengan kuasaNya bekerja melalui diri kita atau tidak? Ataukah kita masih terus dan terus menutup diri kita terhadap Allah yang hadir di dalam diri kita, Allah yang mau berkarya melalui kita?

Kalau memang kita merasakan kehadiran Tuhan dan membuka diri terhadapNya, sejauhmana kita sungguh mensyukuri berkat yang kita terima dalam hidup kita, sebagaimana diteladankan oleh Maria? Sudahkah kita membagikan syukur, sukacita, dan kedamaian yang kita terima kepada orang lain dalam hidup kita? Ataukah kita masih terkungkung dalam sikap egoisme, individualisme, sikap malas tau yang berlebihan dan mengesampingkan saudara lain dalam hidup ini?

Kedua, Allah hadir dan mendiami diri kita semua sebagai kenisah yang hidup. Pikiran Allah ini mengangkat martabat kita yang telah terpuruk oleh dosa. Pertanyaan bagi kita adalah bagaimana kita bisa membawa diri sebagai kenisah Allah yang hidup? Bunda Maria menjadi orang nomor satu yaitu penuh rahmat Allah, orang nomor satu karena hidup menurut kehendak Allah dan orang nomor satu dalam sikap pasrah, percaya dan bersyukur. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih bertahan untuk menjadi orang nomor satu dalam berbuat dosa? Kemalasan? Cuek sa\ tidak peduli dengan apa yang terjadi? Dalam menceritakan kejelekan dan kelemahan orang lain, memfitnah, atau bergosip? Hanya tahu banyak omong saja? Egois?

Ketiga, Maria percaya bahwa kehendak Allah sungguh yang sempurna dan amat baik bagi manusia. Maria pasrah-percaya sepenuhnya tanpa syarat. Sikap dasar Maria yang percaya dan pasrah ini berdampak atau berbuah yakni membawa kegembiraan bagi Elisabet dan anak yang dikandungnya. Dalam sikap-sikap selanjutnya kita dapat menemukan bahwa naluri cinta Maria selalu membawa Berkat bagi siapapun yang dijumpainya (misalnya dlm Yoh 2:1-11, Maria menolong keluarga yang berpesta di Kana ketika kehabisan anggur. Kehadiran Maria membawa berkat bagi keluarga itu). Pertanyaannya, apakah (seperti Maria) kehadiran, kunjungan, dan perjumpaanku dengan sesama juga mampu membawa atau menghadirkan kegembiraan, sukacita, damai, dan kebahagiaan? Bila kita seperti Maria membiarkan dikuasai oleh kehendak Allah, maka hidup kita pun akan memancarkan sukacita bagi sesama. Mari kita menata hati, pikiran, perasaan, sikap, perilaku, dan perkataan kita, agar mampu menghadirkan kegembiraan hidup yang sejati bagi sesama. Biarlah salam atau sapaan kita sekecil apapun bagi orang lain; menjadi sapaan penuh cinta yang menghadirkan Berkat Allah bagi siapapun yang mendengarkannya.

Kita dipanggil bukan untuk menjadi pribadi yang sukses, tapi dipanggil untuk membawa berkat bagi sesama. Semoga teladan Maria menjiwai hidup kita. AMIN*

[Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM]

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-hari-raya-santa-perawan-maria-diangkat-ke-surga/feed/ 0
Renungan Minggu Biasa XVII “Cara Tuhan Menjawab Doa Kita” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-biasa-xvii-cara-tuhan-menjawab-doa-kita/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-biasa-xvii-cara-tuhan-menjawab-doa-kita/#respond Sat, 23 Jul 2022 07:26:05 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=3946 Renungan Minggu Biasa XVII

Cara Tuhan Menjawab Doa Kita

Bacaan I: Kej. 18:20-32, Bacaan II: Kol. 2:12-14, Bacaan Injil: Luk. 11:1-13

Ada seorang pemuda yang rajin berdoa, meminta sesuatu pada Tuhan. Tapi doanya tak kunjung terkabulkan. Meskipun demikian, dia tetap setia berdoa bahkan hingga hampir 1 tahun dia berdoa, belum terkabul juga. Dia melihat teman kantornya, orangnya biasa saja, tak istimewa, ibadah ke gereja pun jarang. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering menipu, bohong sana sini. Tapi anehnya, apa yang dia doakan, semua dipenuhi. 

Pemuda itu pun heran. Akhirnya, dia pun datang ke seorang pastor. Dia bercerita kepada pastor tentang permasalahan yang sedang dihadapi, tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat dan setia, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan. Mendengar kisah pemuda itu, pastor itu tersenyum lalu bertanya kepada pemuda itu, kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urak-urakan, main musik tidak benar, suaranya fals, bagiamana reaksimu?” Pemuda tadi menjawab, “segera saya kasih uang, nggak tahan melihat dan dengarkan dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula.”

Pastor bertanya lagi, kalau pengamennya rapi, main musiknya enak, suaranya merdu, menyanyi lagu yang kamu suka, bagaimana reaksimu?” Pemuda ini pun menjawab, “Wahh…kalau itu saya dengarkan. Saya biarkan dia nyanyi sampai habis. Lama pun tidak masalah. Kalau pengamen urakan tadi saya kasih 2ribu, yang ini 100ribu pun aku rela.” Pastor pun tersenyum. “Begitulah Tuhan. Ketika melihat engkau yang taat dan setia datang menghadapNya, Tuhan betah dengarkan doamu, melihat kamu. Dan Tuhan ingin sering bertemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Tuhan, memberi apa yang kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia ingin menahan kamu lebih lama, biar lebih intim dengan Dia. Coba bayangkan, kalau doamu cepat dikabulkan, apa kamu bakal sedekat ini? Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan jauh lebih besar dari apa yang kamu minta.” Begitulah cara Tuhan menjawab doa-doa kita! 

Kisah singkat ini jelas menunjukkan kepada kita bahwa sang pemuda berkelakuan baik dan rajin berdoa, tetapi dia tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan. Dia membandingkan dirinya dengan temannya yang urak-urakan hidupnya tetapi setiap doa dan permohonannya dikabulkan oleh Tuhan. 

Mungkin kita juga seperti sang pemuda ini, tidak sabar menunggu jawaban atas doa dan permohonan kita. Bahkan kita mungkin tidak lagi percaya pada kekuatan doa, dan menggerutu, “untuk apa berdoa? Tidak ada gunanya. Tidak ada untungnya.” Tetapi, haruskah kita menyimpulkan bahwa doa itu tidak ada untungnya? Benarkah doa itu tidak bermakna? Ternyata tidak! Tuhan punya cara yang teramat baik dalam menjawab setiap doa, pengharapan dan permohonan kita. Tuhan ingin kita lebih dekat dengan dia. Dia ingin kita lebih taat dan setia. Dia tahu apa yang terjadi atas hidup kita. Dia pun tahu apa yang kita butuhkan dalam hidup kita dan Dia memberi yang terbaik bahkan lebih dari yang kita harapkan, asal kita sungguh dekat denganNya dan bersabar terhadap rancangan dan rencana terindahnya untuk kita.

Dalam bacaan Injil tadi jelas, Yesus mengatakan …Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu  ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta  kepada-Nya” (Luk.11:9-13).

Untuk itu, berserahlah pada Tuhan dan biarkan kehendak Tuhan yang terjadi atas hidupmu, seperti yang dilakukan oleh Bunda Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk.1:39). Ungkapkan seluruh pengharapanmu dalam kepasrahan, ketaatan, dan kesetiaan pada Tuhan dalam doa yang tak jemu-jemu. Sebab doa adalah “suatu luapan hati, sebuah pandangan sederhana ke surga. Suatu luapan syukur dan cinta, baik di tengah penderitaan maupun sukacita.” Doa terkait dengan hati yaitu hati manusia dan hati Tuhan. Orang yang berdoa adalah orang yang berada dalam hubungan antara hati dengan hati; hatinya dan hati Allah. Orang yang berdoa adalah dia yang percaya bahwa hati Allah dipenuhi kasih yang tak terhingga, sekaligus meyakini bahwa hati Allah mampug menampung segalanya. Dalam hati Allah ada ruang untuk setiap orang. Orang yang berdoa adalah dia yang berada dalam hati Allah, dalam kerahiman Allah. 

Bersama para murid dalam Injil hari ini, dengan rendah hati kita memohon kepada Yesus, “Ajarilah kami berdoa…dan berserah padaMu, Tuhan” (bdk, Luk.11:1). AMIN* [Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM]

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-biasa-xvii-cara-tuhan-menjawab-doa-kita/feed/ 0
Renungan Hari Minggu Biasa XVI : “Mengasihi Tuhan dengan Cara Terbaik” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xvi-mengasihi-tuhan-dengan-cara-terbaik/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xvi-mengasihi-tuhan-dengan-cara-terbaik/#respond Sat, 16 Jul 2022 01:07:25 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=3924 Renungan Hari Minggu Biasa XVI

Mengasihi Tuhan dengan Cara Terbaik

Bacaan I: Kej. 18:1-10a; Bacaan II: Kol. 1:24-28; Bacaan Injil: Luk. 10:38-42

Bacaan Injil hari ini mengantar kita pada permenungan tentang pilihan terbaik dari pelbagai bentuk pelayanan dan kasih pada Tuhan. Lukas 10:38-42 menceritakan, Yesus mengunjungi rumah Marta dan Maria. Kunjungan serupa sering terjadi dalam hidup kita. Kita acapkali mendapat kunjungan dari orang yang amat kita hargai dan hormati, seperti pastor, ketua dewan stasi atau lingkungan, bapak atau ibu guru. Dalam menyambutnya pun akan tampak bagaimana sikap kita pada mereka. Betapa sibuknya, ketika kita menyambut tamu terhormat. Khususnya kesibukan yang berkaitan dengan makanan dan minuman, tempat duduk, dan hal lain yang bersifat material. Kita ingin menjaga nama baik dan tak mau dipermalukan. Sedapat mungkin kita menyuguhkan yang terbaik sebagai tanda perhatian dan kasih. Tanpa disadari, kita menjadi supersibuk. Apalagi jika tamu itu datang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kesibukan atas hal material bisa menghilangkan kegembiraan dan suka-cita dalam menyambut tamu. Kita menjadi bingung. Pikiran tak terpusat pada tamu. Selain itu, kita pun cemas dan gelisah jika penyambutan kita kurang pantas, akibat tak memberikan yang terbaik.

Maria dan Marta yang dikisahkan di dalam kutipan injil hari ini menggambarkan dua sikap yang berbeda. Mereka berdua sama-sama menawarkan tumpangan dan keramah tamahan kepada Yesus yang sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Namun cara dua orang bersaudara ini dalam menerima Yesus sangatlah berbeda.

Marta sangat sibuk, sebagaimana pasti akan dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga dalam situasi yang sama yaitu berusaha untuk melayani, jangan sampai ada yang kurang. Yesus baginya adalah seorang tamu terhormat. Semua akan diberikan, semua akan ia lakukan untuk menghormati tamunya. Maria sangatlah lain. Ia adalah ketenangan, juga penuh perhatian, tetapi dengan cara yang sangat berbeda. Ia duduk pada kaki Yesus dan baginya tidak ada yang lebih penting daripada berada dekat dengan-Nya dan mendengarkan setiap perkataan-Nya. Baginya Yesus bukanlah tamu yang membutuhkan ini atau itu. Maria memikirkan sesuatu yang lebih baik, yang kita semua juga butuhkan, yang hanya Ia sendiri yang dapat memberikannya. Maka ia duduk sangat tenang tetapi juga sangat terbuka terhadap Yesus dan membiarkan setiap kata dari mulut Yesus meresap ke dalam jiwanya, membiarkan dirinya disuap dengan santapan rohani.

Dalam dua tokoh ini ditampilkanlah dua tipe yang berbeda dari hidup kristiani. Yang satu lebih tampil dalam tindakan aktif dan yang lain lebih reflektif. Marta melihat Yesus terutama sebagai manusia, yang membutuhkan pelayanannya. Maria melihat Yesus lebih sebagai Yang dari Allah, yang dapat memberikan makanan untuk hidup yang kekal. Sesungguhnya Yesus adalah keduanya: manusia yang adalah teman seperjalanan kita, yang juga membutuhkan kekuatan di dalam banyak saudara-saudari kita; tetapi Ia juga sekaligus Allah, yang tidak membutuhkan apa-apa dari kita, melainkan memberi dan menganugerahkannya dari kepenuhan roh dan hidup ilahi-Nya.

Kedua tipe kehidupan kristiani ini haruslah ada di dalam diri kita. Pengaduan dari Marta, “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku” (Luk 10:40) membuat pembicaraan ini menarik. Yesus harus mengambil sikap dan jawaban yang diberikannya bernada teguran kepada Marta. Ia mengakui dan menghargai usaha dari Marta sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab sebagai tuan rumah, tetapi Ia tidak ingin membiarkan bahwa apa yang dilakukan Maria dianggap tidak bernilai.

Bagi Marta tampaknya kedua sikap itu adalah pilihan: melakukan sesuatu atau duduk saja tanpa melakukan sesuatu, aktif atau pasif. Ia tidak mengerti, bahwa masih ada hal lain yaitu duduk dalam ketenangan dan kehadiran penuh sebagai suatu sikap keterbukaan yang sangat mendalam bagi Sabda Allah dan sebagai suatu jawaban batin yang spontan akan sabda yang diterima. Bukankah manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah? Dan hidup dari sabda Allah lebih utama daripada hidup yang diberi makan dengan roti.

Di dalam hidup harian kita dewasa ini sangatlah terasa bahwa hal-hal yang menyangkut ekonomi menjadi sangat dominan. Dalam situasi seperti itu mestinya kita menyadari bahwa masyarakat kita membutuhkan bukan hanya kemajuan ekonomi yang pesat, tetapi juga sangatlah mendesak suatu pembaharuan kebiasaan, kehidupan rohani dan keagamaan. Tetapi itu semua tidaklah mungkin kita capai dari diri kita sendiri, melalui usaha yang lebih giat. Kita haruslah pertama-tama bersedia untuk menerima dengan penuh keyakinan, membuka mata hati untuk mendengarkan dan mengikuti tuntunan Allah, mematuhi dengan setia perintah-perintah Allah yang sangat dasariah, dan membiarkan diri diubah oleh kuasa Allah yang senantiasa ditawarkan kepada kita secara sangat berlimpah di dalam sabda dan sakramen-sakramenNya. Itu semua tidaklah pertama-tama muncul dari prestasi kita, meskipun Allah selalu membutuhkan kerjasama kita.

Tentu kita tidak dapat mengatakan tentang Marta dalam kutipan injil hari ini dan tentang begitu banyak Martha pada zaman kita ini, bahwa ia (mereka) hanya mengusahakan hal-hal duniawi. Apa yang ia lakukan, ia lakukan juga untuk Tuhan dan ia lakukan karena cinta kepada-Nya. Untuk kita dapat memahami bahwa menjadi orang Kristen berarti melakukan sesuatu. Siapa yang berpikir demikian, pasti dikagetkan oleh jawaban Yesus: bahwa tidak ada yang lebih penting daripada mendengarkan Dia dengan tenang dan penuh perhatian. Itulah yang terjadi pada banyak orang yang karena keterbatasan fisik tidak dapat bekerja seperti banyak orang lain. Sebutlah mereka yang lumpuh, atau karena penyakit lain terpaksa hanya dapat terbaring di tempat tidur. Tentu mereka dapat sangat aktif secara rohani, tetapi secara fisik mereka sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi apakah aktivitas itulah segalanya? Yesus pun tidak memaksudkan bahwa aktivitas tidak bernilai. Dalam ceritera kita pada hari minggu lalu tentang orang Samaria yang baik hati, sangatlah jelas Ia tunjukkan bahwa keterlibatan sangatlah berarti dan penting. Tetapi sabdanya sangatlah jelas menentang kebisingan aktivitas, juga manakala kesibukan itu untuk Kristus dan dipahami sebagai pelayanan untukNya, bila tidak ada lagi waktu untuk “bersama dengan-Nya,” mendengarkan sabda-Nya dan menjawab sabda-Nya dengan doa-doa kita.

Awal dari warta kekristenan bukanlah tindakan melainkan sabda. Dan sabda itu haruslah diterima, didengarkan dan dipercayai, pertama-tama menjadi daging di dalam hidup kita. Bila kita telah menerimanya, kita tidak dapat mempertahankannya tanpa setiap kali merengungkannya di dalam ketenangan dan mengarahkan seluruh indera kita kepadanya.

Hal itu membutuhkan waktu dan ketenangan, yang harus kita luangkan. Waktu yang kita luangkan itu adalah saat di mana kita membiasakan diri kita memandang Allah yang mendatangi kita, seperti kata Paus Paulus VI: dengan segenap kekuatan jiwa di dalam permenungan dan cinta masuk ke dalam alam ilahi yang penuh misteri. Sikap seperti inilah yang dipuji Yesus pada diri Maria dari Betania bila Ia mengatakan “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya” (Luk 10:41-42). Itulah yang dikehendaki oleh Tuhan untuk kita lakukan! AMIN*** [Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM]

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xvi-mengasihi-tuhan-dengan-cara-terbaik/feed/ 0
Renungan Hari Minggu Biasa XIV “Menjadi Pembawa Damai” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xiv-menjadi-pembawa-damai/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xiv-menjadi-pembawa-damai/#respond Sat, 02 Jul 2022 11:59:29 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=3896 Renungan Hari Minggu Biasa XIV “Menjadi Pembawa Damai”

Bacaan I: Yes. 66: 10-14c Bacaan Kedua: Gal. 6: 14-18 Bacaan Injil: 10: 1-12.17-20

“Menjadi Pembawa Damai”

Beberapa hari terakhir ini, tidak hanya Indonesia tapi juga Dunia Internasional, sedikit banyak memperbincangkan langkah berani Pak Jokowi (Presiden RI) yang mengadakan kunjungan ke dua (2) negara yang tengah berkonfik (berperang hebat sejak 24 Februari 2022) yaitu Rusia dan Ukraina. Tujuan kunjungan itu selain kunjungan kenegaraan untuk membangun hubungan bilateral, tapi juga untuk mewujudkan perdamaian bagi kedua negara yang tengah berperang. Pada Rabu, 29 Juni 2022 tepat pkl 15.00 waktu setempat, Presiden Jokowi tiba di Ukraina dan disambut oleh Presiden Volodymir Zelenskyy. Sesudah pertemuan dengan Presiden Zelenskyy, Presiden Jokowi kemudian mengunjungi Rusia pada Kamis, 30 Juni 2022. Bersama rombongan, Presiden Jokowi diterima di Istana Kremlin-Moskow dan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

 

Lepas dari berbagai macam tanggapan termasuk tanggapan negatif berupa berbagai nyinyiran atas kunjungan itu, kita semua tahu bahwa niat akan terwujudnya perdamaian dan penghargaan terhadap martabat manusia menjadi salah satu tujuan kunjungan Presiden Jokowi terhadap kedua negara yang tengah berkonflik itu. Presiden Jokowi tampil sebagai jembatan komunikasi antar kedua pemimpin negara sekaligus menawarkan ide-ide baik demi terciptanya perdamaian, karena konflik kedua negara membawa akibat yang luas untuk dunia. Misi perdamaian yang dibawa membuat banyak pihak mengatakan bahwa pengaruh Jokowi mengubah dunia.

 

Dalam sejarah dunia, jauh sebelum itu ada pula misi perdamaian yaitu kunjungan Santo Fransiskus Assisi ke Damietta dan bertemu penguasa Mesir, Sultan Malikh Al-Khamil, pada 1219, ketika sedang berkecamuk Perang Salib. 800 thn kemudian, momentum perjumpaan yang dilandasi misi perdamaian dan cinta ini, kembali terulang ketika Paus Fransiskus berkunjung ke semenanjung Arab pada 3-5 Februari 2019 yang lalu, dan menghasilkan sebuah dokumen Abu Dhabi: Persaudaraan Insani (Human Fraternity) yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Dr Ahmad al-Tayyib.

 

Semua langkah dari para tokoh tersebut dilandasi oleh cinta akan perdamaian dan kemanusiaan, karena kita tahu orang yang bernurani tentu mendambakan damai dalam hidup dengan siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

 

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini setidaknya memberikan gambaran mengenai pengharapan akan cinta, perlindungan, kesejahteraan, keselamatan, dan damai. Yesaya, dalam bacaan pertama mewartakan kabar sukacita kepada orang-orang buangan Babilonia bahwa mereka akan dirawat “seperti seorang ibu yang menghibur bayinya” (bdk, Yes.66:13).  Sementara dalam bacaan Injil, menunjukkan kepada kita bagaimana Yesus mengajarkan para muridNya untuk memberikan salam damai kepada setiap rumah yang mereka masuki. Yesus sendiri pun berulang kali berdoa mohon damai untuk dunia dan para muridNya. Ia pun seringkali menyapa banyak orang dengan salam khas, “damai bagimu.” Sapaan yang sama seringkali dilakukan oleh imam setiap kali merayakan sakramen-sakramen termasuk ketika merayakan Ekaristi Kudus. Namun, apakah yang dimaksudkan Yesus ketika berbicara tentang damai itu?

 

Hemat saya, ketika Yesus berbicara tentang damai maka damai itu tidak hanya sekadar tidak ada konflik, tidak ada perang, tidak ada perseteruan, dan lain-lain. Damai yang dimaksudkan sebetulnya adalah syallom yang berarti bebas dari rasa takut. Damai berarti keutuhan hidup, sukacita, kegembiraan, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia untuk kepenuhan hidup. Maka mengusahakan dunia yang penuh damai berarti mengusahakan sebuah dunia yang bebas dari ketakutan dan kebencian, dunia yang diliputi oleh sukacita, kegembiraan, dan kepenuhan hidup.

 

Ketika Yesus mengajarkan para muridNya untuk mengucapkan ‘salam damai’ kepada setiap rumah yang mereka masuki maka hal itu mengandung banyak arti. Di dalam salam damai itu terkandung satu tuntutan bahwa kabar gembira yang dibawa oleh para murid hendaknya menjadi sukacita dan kegembiraan bagi orang-orang yang menerimanya. Para murid tidak boleh menjadi sumber perselisihan, perseteruan, konflik, pertengkaran, atau permusuhan. Sebaliknya, kehadiran para murid hendaknya menjadi sumber sukacita, kegembiraan, dan kebahagiaan.

 

Ajaran Yesus bagi para murid ini juga berlaku sama bagi kita semua pengikutNya. Kita dipanggil untuk tugas yang sama yaitu menjadi pembawa damai, sukacita bukan sebaliknya kehadiran kita menjadi sumber konflik dan pertengkaran, penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain. Itu sekaligus berarti kita dipanggil untuk menolak (membersihkan) diri kita dari kebencian, iri hati, cemburu, egoisme, amarah, dengki, dan sikap mau menang sendiri.

 

Harus kita akui bahwa tidak mudah menjadi pembawa damai dalam kehidupan kita karena kita berhadapan dengan kelemahan dan keterbatasan manusiawi kita. Oleh karena itu, kita perlu memohonkan anugerah dan rahmat dari Tuhan agar kita dikuatkan dan diteguhkan untuk menjadi pembawa damai yang dapat diandalkan dalam kehidupan kita.

 

Santo Fransiskus Assisi, Paus Fransiskus, dan Presiden Jokowi adalah beberapa contoh tokoh dari sekian banyak tokoh yang berusaha mewujudkan damai. Kita juga menjadi bagian dari beberapa tokoh yang tidak disebutkan nama kita, yang juga berusaha menjadi pembawa damai bagi sesama dalam hidup kita. Mari kita wujudkan itu! Tuhan memberkati selalu. AMIN***

[Rm. Jimmy Hendrik Rance Tnomat, OFM]

 

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-minggu-biasa-xiv-menjadi-pembawa-damai/feed/ 0
Renungan Minggu “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus/#respond Sun, 19 Jun 2022 01:20:03 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=3819 Renungan Hari Minggu – Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

“Mukjizat Berarti Membangkitkan Kepedulian”

Pada hari ini kita bersama Gereja sejagat merayakan hari raya Tubuh dan Darah Yesus. Dalam peringatan ini, penginjil Lukas menampilkan sebuah kisah tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang. Tentunya bukan sesuatu yang aneh jika bacaan yang ditampilkan dalam bacaan ini berkaitan dengan makanan. Alasannya adalah dari kisah ini, kita diarahkan pada suatu hal penting bahwa peristiwa Yesus memberi makan kepada lima ribu orang bukan murni sebuah mukjizat dari ketiadaan menjadi ada. Yesus tidak sedang bertindak seperti para pesulap atau magician. Yesus tidak mengadakan segala sesuatu dengan mantra, seperti“adakadabra”.

Lantas apa yang dilakukan Yesus ketika ingin memberi makan kepada lima ribu orang? Ketika ingin memberikan makanan kepada lima ribu orang, Yesus malah mengharuskan para muridNya untuk memberi mereka makan. Yesus berkata, “kamu harus memberi mereka makan”. Pernyataan Yesus ini bukan sebuah tawaran atau permintaan, melainkan sebuah keharusan. Keharusan yang dituntut itu adalah para pengikutNya bertanggung jawab memberi mereka makan. Hal ini memberi arti bahwa para pengikut Yesus dipanggil untuk peduli terhadap kekurangan sesama kita. Dengan demikian, mukjizat yang hendak dibangun oleh Yesus berarti membangkitkan sikap peduli terhadap sesama.

Yesus melakukan mukjizat untuk memberi mereka makanan, membutuhkan bantuan dari manusia. Lima roti dan dua ikan merupakan sebuah tanda bahwa manusia diharuskan uuntuk berpartisipasi dalam karya kebaikan Allah kepada sesama kita. Oleh karena itu, manusia diperlukan Allah untuk melakukan karya kebaikan. Kita menjadi mitra Allah untuk menjadi pelaku mukjizat ketika menyaksikan kekurangan saudara-saudara di sekitar kita. Apakah kita semua mau dan siap bermitra dengan Allah dalam kehidupan kita?

Tuhan memberkati kita. Amin

 

Sdr. Banus, OFM

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-hari-raya-tubuh-dan-darah-kristus/feed/ 0
Renungan Minggu Hari Raya “TriTunggal MahaKudus” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-hari-raya-tritunggal-mahakudus/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-hari-raya-tritunggal-mahakudus/#respond Sun, 12 Jun 2022 01:35:46 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=3763 Renungan Minggu: “TriTunggal MahaKudus”

“Berani Menyatakan Kebenaran”

Bacaan I: Ams.8: 22-31 Bacaan II: Rm. 5: 1-5 Bacaan Injil: Yoh. 16: 12-15

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada hari ini, Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Yesus menguraikan Roh Kudus, Roh Kebenaran kepada kita semua. Sebelum Yesus berpisah dengan para murid-Nya, Ia menjanjikan Roh Kudus, yang serupa dengan Dia, kepada mereka dan kita semua. Yesus sungguh menyadari kelemahan-kelemahan para murid yang membuat mereka tidak bisa menlanjutkan tugas perutusan yang telah dimulai-Nya di dunia ini, karena itu dikatakan-Nya, “masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yoh. 16:12). Yesus melihat raut wajah ketakutan dan kesedihan para murid ketika Ia mengumumkan kata-kata perpisahan kepada mereka. Berputusnya ikatan fisik dengan Sang Guru membuat murid-murid merasa kehilangan dan hancur. Karena itu, Dia mendorong dan memberi semangat kepada mereka dengan mengirimkan yang lain seperti diri-Nya, untuk menjadi penolong, pembela, dan penuntun mereka, yakni Roh Kebenaran. Roh Kebenaran akan diungkapkan kepada kita karena “kita telah dibenarkan oleh karena iman, kita hidup dalam damai sejehtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus,” demikian kata Paulus dalam bacaan pertama hari ini (Rm. 5:1). Melalui kata-kata Paulus, Roh Kebenaran itu akan membimbing kita ke dalam kebenaran, karena kita telah dibenarkan oleh Yesus melalui iman kita kepada-Nya. Roh itulah yang akan melanjutkan misi Yesus dan menuntun Gereja ke depan.

Yesus tidak menghabiskan apa pun hanya untuk diri-Nya. Yesus tidak mengabaikan para murid atau apatis dengan mereka. Ia tidak meninggalkan dan membiarkan para murid dan semua orang yang beriman kepada-Nya merana tanpa tujuan di dunia ini. Karena itu, Dia berikan semua yang dimiliki-Nya kepada para murid dan kita semua. Momen percakapan perpisahan, suatu hal hang belum pernah dilakukan Yesus sebelumnya, yang dilakukan Yesus dengan murid-murid-Nya pada malam Perjamuan Terakhir bukan semata-mata momen perpisahan yang menyedihkan, melainkan suatu pembekalan untuk mempersiapkan mereka dan semua umat beriman bagi pelayanan masa depan. Selama tiga tahun Yesus telah mengajar mereka, tinggal bersama mereka dan mengasihi mereka dan sekarang puncak kasih-Nya dengan mengorbankan hidup-Nya untuk mereka.

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Kristus, Roh Kebenaran yang dijanjikan Kristus kepada kita pada hari ini, mengingatkan dan menyadarkan kita akan beberapa hal ini: pertama, Bapa mengasihi kita tanpa syarat melalui Yesus Kristus. Roh Kudus, Roh Kebenaran akan membimbing kita kepada kebenaran tentang Kristus dan kasih tanpa syarat yang telah dicurahkan oleh Bapa bagi kita. Yesus menyatakan kepenuhan Allah kepada kita. Dia telah menyatakan kepada kita tentang Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita semua telah dibabtis dengan nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita juga menyebut nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus setiap kali mengawali ibadat dan mengakuinya dalam syahadat. Itulah nama Tuhan yang kita rayakan hari ini, Minggu Tritunggal Mahakudus. Bapa telah mengutus Purta-Nya, Yesus Kristus kepada kita. Yesus telah memberi kita Roh Kebenaran dan Roh Kebenaran itu tunduk kepada Yesus. Roh Kebenaran itu akan menghibur dan menuntun kita. Semua yang telah dilakukan oleh Yesus adalah tanda kasih Bapa yang dalam dan luas bagi kita umat-Nya.

Kedua, kita seringkali memberontak melawan Tuhan. Roh Kebenaran menuntun kita agar kita sadar bahwa kita seringkali berada dalam keadaan memberontak terhadap Tuhan dan menentang segala sesuatu yang benar dan baik dari-Nya. Kelemahan insani kita terkadang menuntun kita untuk hidup dalam ketidakbenaran dan melawan yang baik. Bahkan, meskipun kita adalah anak-anak Allah, kita secara menyedihkan menyangkal Bapa kita dengan melakukan kehendak daging kita, bertindak atas kemauan kita sendiri. Yesus mengaruniakan Roh Kebenaran yang membimbing kita dan menyadarkan kita akan sikap pemberontakan kita melawan Tuhan. Dalam Roh dan melalui-Nya kita dituntun untuk pulang kepada kebenaran sejati yaitu Tuhan sendiri.

Ketiga, dalam Yesus kita memperoleh pengampunan dan hidup. Roh Kebenaran mengajarkan kita bahwa kita diampuni dan karena Yesus Kristus dan melalui Dia kasih Allah diberikan kepada kita. Yesus telah memberikan segala-galanya, bahkan mengorbankan hidup-Nya demi kita. Hidup, karya dan penebusan Kristus menjadi tanda pengampunan Allah atas dosa-dosa kita dan serentak menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya. Hidup kita telah dibaharui menjadi baru, hidup dalam Roh Kebenaran.

Keempat, dengan Roh Allah kita diutus untuk mewartakan kristus dengan berani. Roh Kebenaran yang dikaruniakan kepada para murid dan kita umat beriman akan menjadi penuntun kita untuk menjadi saksi Kristus sampai ke ujung dunia. Kita telah menerima kuasa Roh Kudus yang dijanjikan-Nya, maka dengan daya Roh itu, kita berani untuk menyampaikan pesan Yesus, kabar baik, kepada sesama kita, dalam keluarga kita, komunitas, lingkungan dan tempat kerja atau dimana pun kita diutus.  Ajari anak-anak akan kasih Tuhan. Beritahu teman kita tentang hal-hal yang baik dan benar. Tuntukkanlah kasih-Nya yang tanpa pamrih itu dalam tindakan nyata kita, bukan sekedar kata-kata hampa belaka. Jadikanlah hidup kita sebagai pancaran Roh yang menerangi, menghangatkan, dan menyejukan sesama kita dan semua ciptaan. Hindari perasaan takut dan ragu demi menciptakan kebenaran karena kita telah dibenarkan oleh Allah dan telah menjadi anak-anakNya. Kita telah diberi kemampuan untuk memuliakan Tuhan, bukan memuliakan diri sendiri, dalam hal-hal baik yang kita lakukan. Marilah kita menggunakan kemampuan itu dengan baik selagi kita diberi kesempatan dan diberi keperjayaan oleh Tuhan.

Saudara-saudari yang telah dibenarkan oleh Tuhan, Yesus telah membuat janji yang sangat serius kepada murid-murid-Nya, sebelum sengsara-Nya, pada saat mereka lemah dan bertanya-tanya apakah yang harus mereka lakukan dari semua hal yang telah dilakukan dan diajarkan Yesus kepada mereka. Para murid dirasuki oleh ketakutan besar sehingga mereka tinggal di dalam ruangan tertutup, dengan pintu terkunci. Setelah lima puluh hari kemudian, pada hari Pentakosta, di dalam ruangan yang tertutup pula, Yesus memberi mereka Roh Kudus dan memberi kuasa untuk menyelamatkan dunia. Sebagaimana para murid, di ruangan ini pula, Yesus telah memberi kita Roh Kebenaran dan mengutus kita untuk menanamkan benih-benih kebenaran dengan seluruh diri kita (berkata-kata dan bertindak dengan benar) untuk menyelamatkan dunia. Kita telah dibenarkan, maka marilah kita tunjukkan kebenaran itu secara nyata dan berani.

Hari Raya Tritunggal Mahakudus pada hari ini juga mengingatkan kita akan kasih Bapa yang dinyatakan sepenuhnya dalam diri Sang Putra. Dalam relasi Allah Tritunggal; Bapa, Putra, dan Roh Kudus, salah satu unsur penting dan menonjol adalah “Kasih”. Ketiga Pribadi dalam komunitas Tritunggal itu saling memberi kasih secara timbal balik. Ketiga Pribadi itu tidak bertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Bapa pengasih, Putra yang dikasihi, dan Roh Kudus buah kasih antara Bapa dan Putra. Yang direfleksikan dalam dogma Allah Tritunggal adalah bahwa kasih Allah telah dinyatakan secara radikal. Yesus adalah radikalitas kasih itu. Karena itu, hanya dengan dan melalui Yesus Kristus-lah misteri Allah Tritunggal dapat kita pahami. Yesus adalah Sabda yang telah menjadi manusia, ungkapan kasih personal Allah bagi manusia. “Relasi kasih” dalam komunitas Allah Tritunggal menjadi dasar dan alasan yang kuat bagi kita untuk mengasihi dan terus mengasihi satu sama lain secara benar, serius dan nyata.

Tuhan memberi kita damai.

Sdr. Fano, OFM

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-minggu-hari-raya-tritunggal-mahakudus/feed/ 0
Renungan Hari Raya Pentakosta: “Tanggung Jawab Kita Menjaga Bumi Seisinya” https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-raya-pentakosta-tanggung-jawab-kita-menjaga-bumi-seisinya/ https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-raya-pentakosta-tanggung-jawab-kita-menjaga-bumi-seisinya/#respond Sun, 05 Jun 2022 02:42:13 +0000 https://gerejapaskalis.or.id/?p=3731 Renungan Hari Minggu – Hari Raya Pentakosta

“Tanggung Jawab Kita Menjaga Bumi Seisinya”

Bacaan I: Kis. 2: 1-11, Bacaan II: Rm. 8: 8-17, Bacaan Injil: Yoh. 14: 15-16,23b-26

 

SURAT GEMBALA HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA 2022

“TANGGUNG JAWAB KITA MENJAGA BUMI SEISINYA” (Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada Perayaan Ekaristi Hari Sabtu/Minggu, 4/5 Juni 2022) Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus

1.Pada tanggal 2-3 Juni yang lalu, banyak perwakilan pemerintahan negaranegara, lembaga-lembaga internasional, lembaga bisnis dan perwakilan masyarakat warga berkumpul di Stockholm, Swedia, memperingati 50 tahun Deklarasi Stockholm tentang lingkungan hidup. Kesempatan itu juga digunakan untuk membicarakan sejauh mana keprihatinan bangsa-bangsa tentang keadaan lingkungan hidup itu sudah ditindak-lanjuti. Konferensi Perserikatan BangsaBangsa (PBB) tentang lingkungan hidup di Stockholm tahun 1972 itulah yang menjadi dasar tanggal 5 Juni dinyatakan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia, hari penting agar umat manusia terus diingatkan untuk memelihara bumi sebagai rumah bersama.

2. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Stockholm itu mengambil tema “Planet yang sehat demi kesejahteraan bersama – tanggungjawab dan kesempatan kita.” Dibicarakan tiga masalah lingkungan hidup yang mendesak untuk diperhatikan dewasa ini, yaitu : pemanasan global dan perubahan iklim, kehancuran alam dan hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi, khususnya polusi udara. Tanpa perlu terlalu rinci dikatakan, ketiga keprihatinan itu pun kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari karena selama ini manusia, termasuk kita, belum sungguh peduli.

3. Perlunya kepedulian manusia itulah yang juga sangat ditekankan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ pada tahun 2015. Paus Fransiskus juga menyatakan bahwa “kita memerlukan pendekatan ekologis yang baru yang dapat mengubah cara kita tinggal di dunia, gaya hidup kita, relasi kita dengan sumber daya alam pada umumnya dan cara pandang kita terhadap kemanusiaan dan kehidupan” (Pesan Paus Fransiskus lewat video pada tanggal 24 Mei 2021). Mengenai hal-hal itu kita sudah banyak mendengarnya, bahkan mempelajarinya. 2 Pertanyaannya adalah apakah kita sudah sungguh mewujudkan kepedulian yang diperlukan agar bumi terjaga untuk kita manusia, untuk saudari-saudara kita yang lemah, miskin dan menderita, dan untuk generasi yang akan datang? Saudara-saudara terkasih,

4. Hari ini kita merayakan Hari Pentakosta, hari kedatangan Roh Kudus. Lewat Injilnya, Santo Yohanes menyampaikan perintah Yesus kepada kita untuk mengasihi-Nya. Yesus juga menyatakan bahwa Bapa akan memberikan Roh Kudus Penolong yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan mengingatkan kita akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kita. Roh itu akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, (bdk Yoh 16:13) yang tentunya adalah kebenaran kasih. Salah satu segi yang amat penting dari kebenaran kasih adalah bahwa kita mengasihi Allah dengan mengasihi sesama (bdk. Mt. 22: 37- 39) – dan bahwa apa yang kita lakukan bagi saudari-saudara kita yang paling hina, kita lakukan untuk Dia (bdk. Mt. 25: 40). Perintah itu sangat jelas menyiratkan perlunya kepedulian kita kepada sesama, khususnya yang menderita, sebagai wujud kasih kepada Allah.

5. Pada saat ini kita diajak merenung lebih jauh, apakah mungkin kita bisa peduli khususnya kepada saudari-saudara kita yang kurang beruntung dan umat manusia pada umumnya jika kita tidak peduli pada lingkungan hidup? Banyak orang lapar karena rusaknya tanah-tanah produktif. Banyak orang haus karena semakin kurangnya air bersih. Banyak orang sakit karena udara kotor.

6. Dasar kepedulian itu tentu bukan hanya penderitaan manusia dan kerusakan lingkungan. Menurut keyakinan kita, sesuai dengan ajaran Rasul Paulus, Roh Kudus yang kedatangan-Nya kita rayakan hari ini, sungguh menyatukan kita semua sebagai saudari dan saudara. Kita adalah anak-anak Allah Bapa, yang seharusnya saling memperhatikan dan saling menjaga. Kita semua adalah manusia yang diciptakan Allah dan tinggal di atas bumi sebagai rumah bersama. Santo Fransiskus dari Assisi pun telah mengajarkan kepada kita dalam doa Gita Sang Surya bahwa semua di atas bumi ini bersaudara : matahari ia sebut saudara, bulan ia sebut saudari Saudari-saudara terkasih,

7. Kita perlu mengakui dengan jujur dan tulus bahwa kita belum sungguh peduli. Karena itu kita perlu terus berusaha untuk melakukan pertobatan ekologis yang 3 lebih mendalam. Salah satu hal penting yang diingatkan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ adalah bahwa kepedulian pada lingkungan hidup bukanlah sekadar tempelan atau tambahan dalam penghayatan iman kita. Kita memang masih sering terpaku pada dua ranah cinta kasih, yaitu cinta kepada Allah dan kepada manusia, sehingga kurang memperhatikan cinta kepada segenap ciptaan. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa kepedulian atau cinta pada lingkungan hidup adalah juga bagian inti iman kita. Itulah pula yang dinyatakan oleh Yesus ketika Ia mengutus murid-murid-Nya dengan berkata : “…beritakanlah Injil kepada segala makhluk …” (Mrk 16:15), bukan hanya kepada segala bangsa.

8. Dengan memiliki kepedulian pada lingkungan hidup sebagai bagian inti iman kita diharapkan bisa melihat segenap ciptaan Tuhan dengan segala keindahan dan keluhurannya sebagai pancaran wajah Allah Sang Pencipta, bukan sekadar alat atau sarana bagi kesejahteraan manusia. Cara berpikir bahwa alam ciptaan hanya sekadar sarana, dapat menjadi pembenaran dari watak serakah manusia yang akan berujung pada rusaknya keseimbangan ekosistem. Pada gilirannya kerusakan itu akan membuat manusia menderita.

9. Dengan mata iman itu pula kita bisa merenung sejenak tentang pandemi Covid19 yang kita harapkan segera berlalu. Kita telah belajar banyak dari pengalaman pandemi itu. Kita belajar untuk semakin solider dengan sesama, khususnya yang menderita di satu sisi, dan solider dengan alam di sisi lain. Selama kegiatan manusia melambat, alam beristirahat. Di situ pula alam menampakkan keindahannya. Semoga kita bisa mengolah pengalaman itu dengan lebih baik di masa depan dan memacu pertobatan ekologis kita.

10. Mengubah cara berpikir kita adalah salah satu bentuk upaya mewujudkan pertobatan ekologis kita. Jika kita sungguh mau terbuka, tentu Roh Kudus akan membimbing kita. Selain itu, upaya-upaya nyata perlu kita lakukan bersama, baik dalam lingkungan Gereja, di sekolah, maupun di tengah masyarakat kita. Kita bukan hanya menyuarakan keprihatinan kita agar orang lain bertindak, melainkan juga perlu melakukan sesuatu yang nyata.

11. Di tengah masyarakat, mari kita mendukung gerakan-gerakan yang sudah ada, atau memulai inisiatif yang baru jika belum ada. Gerakan untuk membuat ecoenzyme atau gerakan untuk mengurangi sampah keluarga adalah beberapa contoh yang sudah ada. Dalam gerakan itu pun, bukan hanya lingkungan hidup yang 4 mendapatkan manfaat, melainkan juga persaudaraan sebagai sesama warga masyarakat.

12. Akhirnya, tidak lupa kita ucapkan terimakasih kepada pribadi-pribadi, keluarga dan komunitas yang telah ikut ambil bagian aktif menumbuhkan kepedulian ini pada masyarakat. Terimakasih kepada lembaga-lembaga pendidikan yang telah menanamkan nilai-nilai itu pada para siswa. Terima kasih pula atas berbagai peran para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/ Imam dan Frater, kaum muda, remaja serta anak-anak dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai bersama, terutama dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama. Mari kita kasihi Allah dengan mengasihi sesama. Dan mari kita mengasihi sesama dengan mengasihi bumi seisinya. Berkat Tuhan selalu menyertai kita semua, keluarga-keluarga dan komunitas kita. Semoga Roh Kudus selalu membimbing kita, Bunda Maria dan Bapa Yosef selalu mendoakan kita.

+ Kardinal Ignatius Suharyo,

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

]]>
https://gerejapaskalis.or.id/renungan/renungan-hari-raya-pentakosta-tanggung-jawab-kita-menjaga-bumi-seisinya/feed/ 0